Memori Masa Kuliah : Struggling for Life
Entah kenapa kepengen bikin semacam postingan berseri, tentang memori selama 4 taun kuliah di ITB. Ini yang pertama, semoga bermanfaat..
—
Aku termasuk mahasiswa yang beruntung mendapatkan beasiswa dari Putera Sampoerna Foundation. Selain ngga usah pusing mikirin SPP n’ biaya kuliah lain, PSF juga rutin mengirimkan living allowance setiap bulan. Besarnya lumayan, mulai dari 500 ribu di awal tingkat 1, dan naik bertahap hingga 700 ribu di tahun terakhir.
Awalnya, berbekal 500 ribu, aku mulai menetapkan anggaran bulanan yang ketat. Makan sehari ngga boleh lebih dari 10 ribu, jadi sebulan habis 300 ribu buat makan thok. Berarti cuman ada 200 ribu sisa untuk beli kebutuhan sehari-hari, jajan, pulsa hape, nonton, main, de el el. Gile, ngga logis banget yah, bayangin aja 10 ribu sehari, paling cuma bisa makan 2 kali @ 5.000 buat siang dan malem. Jadi paginya aku cuman makan mie atau roti. Bahkan aku inget banget, pernah hampir kehabisan duit di akhir-akhir bulan, sampai beberapa hari aku siang malem cuma makan nasi+tahu+sayur @ 2.500. Ya Allah, tapi tiap kali makan kayaknya terasa nikmat banget. Mungkin baru kali itu aku merasakan syukur yang mendalam bahwa selama aku hidup, ga pernah aku kekurangan makanan. Tidak sedikit orang-orang di luar sana yang sehari-hari terpaksa makan nasi basi, nasi aking, bahkan makanan untuk ternak demi menyambung hidup. Aku pun bertekad selalu menyisihkan 2.5% uang sakuku untuk berzakat dan menunaikan hak mereka. Read more »
Mengerti
Hari ini aku belajar, tentang salah satu hal tersulit dalam menjalin hubungan : berusaha mengerti, sebelum dimengerti
Laki-laki punya kecenderungan untuk memaksakan kehendak. Laki-laki merasa hebat jika perempuan takluk, tunduk, dan menuruti keinginannya. Laki-laki merasa berwibawa jika semua yang dikatakannya, semua yang diperintahkannya, mendapati prioritas lebih tinggi dari apa yang perempuan utarakan, apa yang perempuan pertimbangkan.
Laki-laki menganggap ia telah memberikan semua yang terbaik untuk perempuan, dan sebagai balasannya, perempuan harus memberikan yang terbaik untuknya. Perempuan harus mengamini kata-kata dan argumennya, bagaikan firman yang turun dari langit tanpa boleh diperdebatkan. Perempuan harus selalu bisa meluangkan waktu untuknya, karena apa lagi yang lebih penting di muka bumi ini ketimbang bersamanya.
Pemikiran tersebut tanpa disadari mendorong laki-laki sulit, bahkan tidak mau, mengerti perempuan. Boro-boro memahami pemikirannya. Tertarik mendengarkan pendapatnya pun tidak, ketika perempuan menunjukkan tanda-tanda yang berseberangan dengan keinginan laki-laki.
Berusaha mengerti memang sulit, sesulit menerima kekalahan. Kita belum sukses mengerti kemauannya, jika kita masih merasa menang dalam suatu perdebatan atau pertengkaran kecil. Mengerti adalah menginjak-injak keangkuhan diri kita, mengubur hidup-hidup emosi dan egoisme kita, bahkan melepaskan sejenak jubah harga diri kita. Walaupun ternyata mengerti itu semudah mengucapkan : “oke, kali ini memang kamu yang benar”
Mengerti adalah satu-satunya jalan untuk lebih dimengerti. Seperti menabung di bank, semakin banyak yang kita simpan, semakin banyak pula yang dapat kita ambil. Semakin banyak kita berusaha mengerti, semakin banyak pula kita akan lebih dimengerti olehnya.
Rekam Siaran TV Dengan Ubuntu
Artikel ini merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya : Nonton TV dengan Gadmei dan Ubuntu. Panduan merekam siaran TV ini tidak dikhususkan untuk device TV Tuner tertentu, tapi aku baru mencobanya dengan Gadmei UTV330+. Tidak hanya merekam secara konvensional, di akhir artikel aku juga membahas teknik merekam secara terjadwal dan otomatis.
Selamat Mencoba
Install Program
Kita akan menggunakan VLC (Video LAN Converter)
aptitude install vlc
Install semua codec yang penting
aptitude install gstreamer0.10-plugins-base gstreamer0.10-plugins-bad gstreamer0.10-plugins-good gstreamer0.10-plugins-ugly gstreamer0.10-ffmpeg gstreamer0.10-fluendo-mp3
Mulai Merekam
Buka VLC, pilih Media > Open Capture Device, pastikan Capture mode : Video for Linux 2, dan kosongkan Card Selection
Pilih Advanced Options, kemudian isikan beberapa parameter di bawah ini :
Device name : /dev/video0
jika pada komputer terhubung device video lain, misalkan : webcam atau MPEG card, bisa jadi TV tuner-nya ada di lokasi /dev/video1 atau /dev/video2 dst. Cara termudah untuk mencari tahu, lihat ke dalam folder /dev kemudian cabut TV Tuner dan perhatikan file mana yang hilang
Standard : PAL
ini standar-nya Indonesia
Audio device name : /dev/audio
Masalah suara ini agak tricky. Seharusnya TV tuner punya “jalur” suara sendiri, misalkan /dev/audio1 atau /dev/audio2. Namun pengalamanku memakai Gadmei, audio-nya baru keluar jika menggunakan kabel audio out Gadmei ke microphone in dari PC (yakni /dev/audio)
Frequency : <kanal>
Nah ini adalah kanal yang ingin kita rekam, dalam satuan Hz. Untuk mengetahui frekuensi dari kanal-kanal, coba lihat file /home/user/.tvtime/stationlist.xml. File ini digenerate otomatis setelah kita menjalankan perintah tvtime-scanner (lihat artikel sebelumnya). Contoh kalau di Bandung : TransTV (638250), TV7 (654250), TVOne (686250)
Caching : 50
Untuk tujuan merekam / memainkannya, angka 50 ms dirasa cukup
Tekan OK, kemudian di sebelah tombol “Play” cari menu “Convert”
Centang pilihan file, dan play locally (jika ingin sambil direkam, sambil ditonton). Kemudian pilih lokasi file ingin disimpan
Selanjutnya pemilihan codec yang digunakan untuk merekam. Sederhananya, hal ini berkaitan dengan kualitas rekaman kita. Namun semakin bagus kualitas rekamannya (gambar dan suara), semakin besar file yang dihasilkan. Untuk pertama kalinya, mari kita coba pilihan profile saja tanpa melakukan tweaking. Pada profile pilih “MPEG-4 / DivX”, lalu klik Save Read more »
Lumayan, Pernah Masuk Tivi :P

Wawancara eksklusif TVONE dengan Aisar
Hari ini temen-temen dari tim LSI Design Contest (yang sampai sekarang blum sempet kuposting laporannya, baru banner doang), diundang ke studio TVONE di acara Apa Kabar Indonesia bersama Indy Rahmawati. Berikut ini beberapa skrinsutnya Read more »
Bermimpilah..
Bermimpilah, maka Tuhan memeluk mimpi-mimpimu (Andrea Hirata)

Comments (5)
Comments (11)
Comments (4)