Ternyata Jujur itu (lebih) Murah

Beberapa waktu yang lalu, ayahku ditilang polisi. Gara-garanya, beliau mengemudikan mobil tanpa memakai sabuk pengaman. Udah tau sabuk pengaman itu wajib, beliau masih saja sempet-sempetnya berdebat dengan polisi lalu lintas yang menilangnya.

TilangPolisi : “Selamat Pagi. Bapak ditilang karena tidak memakai sabuk pengaman”
Ayah : “Memang sudah diwajibkan ya?”
Polisi : “Sudah, pak. Sudah dari dulu, masa bapak ga tau”
Ayah : “Lho, saya liat sopir-sopir angkot ga ada yang pake kok. Saya pikir belum wajib. Berarti bapak mesti nilangin sopir-sopir angkot juga dong.”
Polisi : (dengan sedikit heran, kok ada ya orang kayak gini) “Mm, klo sopir angkot memang dapet keringanan, Pak. “
Ayah : (???)
Polisi : Ya sudah, sekarang SIM bapak saya tahan, nanti bapak ikut pengadilan
Ayah : Ya sudah
Polisi : (menunggu, sambil action2 ngeluarin catetan tilang, berharap orang ini minta “damai”)
Ayah : … (no response)
Polisi : “Bapak mau ikut pengadilan, atau bayar denda di sini saja?”
Ayah : (hmm ini nih, minta disogok) “Udah pak, pengadilan aja”
Polisi : (hehhh, sial aku, ga dapet saweran)

Para pemirsa, ayahku memang orang yang idealis. Nah, untuk urusan macam begitu, beliau ga pernah mau memakai “jalan pintas”. Pokoknya dianggepnya nyogok lah, klo ngasi “uang damai” ke polisi.
Read more of this post

Advertisements