Kabu, (not) only in Japan

Saya udah lama benci dengan permainan saham.
I just can’t stand with the fact that people throw billions into money-making machine,
while they can actually invest  and turn it into real business.

Agak kaget juga ketika mengetahui, teman-teman kantor pada demen main “kabu”(japanese: 株, arti: saham)
Entah buat orang Jepang udah biasa, lalu juga didukung layanan jual beli online yang  reliable,
they could spare half of their salary to bring in new stocks.

Kemarin ada senpai yang bercerita pengalaman pahit dan manisnya main kabu.
Pengalaman manisnya, punya saham di perusahaan alat-alat & kendaraan berat. Harganya makin melambung karena Jepang lagi kenceng-kencengnya membangun daerah yang terkena dampak Tsunami tempo hari.
Pengalaman pahitnya, big loss, no! HUGE LOSS of Olympus stock. Harganya terjun bebas, saat ini kurang dari 1/5 (seperlima) dari harga 2 bulan lalu. Still wondering why? check it http://goo.gl/CGBo7

Then I called it, a gamble. He refused..

Advertisements

Belajar Korupsi dari Orang Jepang

Ini kejadian menarik yang baru saja saya alami.
Saya bersama 3 orang Jepang pergi dinas ke luar kota, tepatnya daerah Ishikawa-ken, sekitar 1 jam penerbangan dari Tokyo. Kami menginap di hotel kelas menengah, bertarif dasar sekitar 7000 Yen (Rp. 700.000), tanpa breakfast maupun fasilitas tambahan lainnya.

Menariknya, rekan-rekan Jepang saya paham betul, mereka bisa dapat tarif diskon kalau booking via merchant atau website tertentu. Orang Indonesia (diwakili oleh saya), pasti langsung mikir nih, bisa kali ya dapet tiket diskon, tapi nota-nya harga biasa, jadi pas klaim uang akomodasi ke kantor kita untung 😀
Baka! tentu aja gak bisa, emangnya di Indonesia, bisa minta nota kosong.

Ternyata oh ternyata, orang Jepang punya cara yang lebih “smart”. Mari kita simak perhitungan ini.
1. Tarif normal : 7000 Yen
2. Tarif diskon : 5500 Yen
3. Tarif diskon + special gift “QUO Card” : 6500 Yen

Dan semua orang Jepang kompakan ambil alternatif yang nomor 3.
Wait! Kenapa gak pilih yang paling murah?? Dan apa pula itu QUO Card, kenapa pilih itu?

Well, QUO card ternyata adalah semacam kartu telepon. Nominalnya persis 1000 Yen, jadi memang 6500 Yen itu = tarif hotel diskon + harga kartu itu, walaupun diembel-embeli “gift”. Bedanya dgn kartu telepon, QUO card itu bisa dipakai untuk BELANJA di convinient store n’ supermarket. Dan benar saja, sesampainya di hotel masing-masing orang mendapat “gift” kartu belanja 1000 Yen. Dan mendapat 1 kartu lagi setiap harinya, jadi kasarnya 1000 Yen/hari tambahan uang saku.

Got it? Si hotel bakal ngeluarin nota “menginap sekian malam” dgn tarif sekian, titik. Tinggal disetor ke bendahara, beres. Persoalan dapet “gift”, hanya pihak hotel dan kami yang tau 🙂
So is it Korupsi or Not? But they said, we’re not crossing the line, we didn’t break the rule.

They ain’t better by nature

Hidup dan bekerja di negeri orang membuat gw “dipaksa” belajar banyak hal. Bahasa, budaya, kebiasaan, norma, aturan, hukum, prosedur, seperti gw me-restart lagi kehidupan gw, n’ belajar menanyakan pertanyaan tingkat SD semacam : “Ini cara makannya gimana ya? (sambil nunjuk ikan mentah dan wasabi)”, “Kalau ke Yokohama naik apa ya? (padahal di tiap stasiun ada peta-nya)”. Semua proses itu masih gw lewati, dan mungkin ga akan berhenti sampai gw bener-bener keluar dari negeri ini.
Gw kagum dengan Jepang, pendorong niat gw singgah di sini. (Masih) Menjadi salah satu kekuatan ekonomi di Dunia, dengan pangsa pasar terbesar untuk produk elektronik dan otomotif, Orang Jepang sebagai sebuah Bangsa juga diakui memiliki karakter, nilai-nilai dan idealisme yang kuat, etos dan kedisiplinan tinggi, kepatuhan terhadap aturan dan norma-norma, juga toleransi yang luas terhadap budaya luar.
We can’t say, semua keunggulan dan superioritas itu menutup mata kita, dari kelemahan kekurangan yang pasti ada. Seperti tidak bisa kita katakan, semua Orang Jepang tepat waktu, dan semua Orang Indonesia suka ngaret. Tapi satu pertanyaan yang selalu muter di otak gw :
How they built themselves

Gw yakin, ketika mereka dilahirkan, sama persis seperti kita, dan semua bayi di dunia ini. Seperti sabda Rasul : bagaikan kertas putih yang siap ditorehkan tinta oleh orang tua dan lingkungannya. Klo ada anggapan, “superioritas itu udah keturunan, bawaan gen DNA”, silakan menikah dengan Cristiano Ronaldo, dan lihat apa gocekan bola anaknya akan selihai Ronaldo, jika dibesarkan di bawah bendera Persib, Persija, atau Persik Kediri? Atau malah, menjadi pemain yang – seperti streotipe pemain-pemain Liga Indonesia – suka mendorong dan meneriaki wasit, sang pemimpin pertandingan.
Jika bukan karena genitas, lalu?
Sistem lah, yang membentuk tiap individu Jepang selama bertahun-tahun mereka tumbuh dan berkembang. Sistem, yang berinteraksi dengan mereka setiap harinya, membentuk pola pikir, watak, dan kepribadian mereka. Sistem, yang hanya dikendalikan oleh segelintir orang-orang terpilih, namun berdampak luas pada kultur hidup puluhan juta rakyat Jepang.
Satu contoh, Jepang punya Sistem Transportasi Umum yang paling sukses di dunia, berdasarkan riset UITP 2001. Walaupun memiliki mobil adalah hal yang lumrah, 70% pekerja dan pelajar di daerah Tokyo-Yokohama menggunakan kendaraan umum, utamanya Kereta Listrik (KRL), untuk pergi ke kantor setiap harinya. KRL Jepang memiliki  jadwal yang sangat padat. Pada peak-hour setiap harinya, jadwal kedatangan dan keberangkatan kereta adalah tiap 2-3 menit sekali. Tak heran, keterlambatan yang bisa ditoleransi hanya hitungan detik. Lewat dari 1 menit, dampaknya akan sangat sistemik (minjem istilah Century), minimal menyebabkan semua KRL berikutnya dari berbagai jalur terlambat.  Tidak hanya KRL, Bis Umum yang punya jadwal setiap 15-20 menit sekali pun,  jarang telat walau hanya semenit.
Tidak hanya Sistem Transportasi Umum, waktu pelayanan publik di Jepang juga sangat presisi masalah waktu. Mulai dari jam buka tutup, waktu pengurusan akta, KTP, sertifikat, segala sesuatu yang berhubungan dengan birokrasi, terdefinisi dan telaksana dengan disiplin. Tidak heran Jepang juga menduduki peringkat tinggi di dunia dalam hal kemudahan membuka bisnis dan investasi. Selama ini juga,  di kantor gw belum pernah denger orang bilang kata-kata “Ga boleh telat ya, ngumpul laporannya”, atau “Ga bole telat ya, ntar dateng rapatnya”. Mungkin itu memang kata-kata yang ga pernah mereka ucapkan selama hidup mereka.
Because late is not an option, why do we have to mention it.
Bisa dibayangin, sebuah masyarakat yang lahir dan dibentuk di dalam Sistem yang sangat disiplin dan menghargai waktu, dibandingkan masyarakat yang tumbuh di lingkungan yang sangat toleran terhadap waktu. Gw senyam senyum klo inget kasus Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh yang telat menemui Menteri Jepang, di kantornya sendiri! Bayangin aja, sama-sama naik mobil, sama-sama kena macet, eh bisa-bisanya kalah telak di “kandang”. Sudah saatnya kita berubah -kalau mau maju-, sekali lagi, kunci perubahan oleh Aa’ Gym :
Mulai dari diri sendiri, dari hal kecil, dan sekarang juga.
Segera cek jadwal hari ini, dan tepatilah!