Memori Masa Kuliah : Struggling for Life

Entah kenapa kepengen bikin semacam postingan berseri, tentang memori selama 4 taun kuliah di ITB. Ini yang pertama, semoga bermanfaat..

Aku termasuk mahasiswa yang beruntung mendapatkan beasiswa dari Putera Sampoerna Foundation. Selain ngga usah pusing mikirin SPP n’ biaya kuliah lain, PSF juga rutin mengirimkan living allowance setiap bulan. Besarnya lumayan, mulai dari 500 ribu di awal tingkat 1, dan naik bertahap hingga 700 ribu di tahun terakhir.

Awalnya, berbekal 500 ribu, aku mulai menetapkan anggaran bulanan yang ketat. Makan sehari ngga boleh lebih dari 10 ribu, jadi sebulan habis 300 ribu buat makan thok. Berarti cuman ada 200 ribu sisa untuk beli kebutuhan sehari-hari, jajan, pulsa hape, nonton, main, de el el. Gile, ngga logis banget yah, bayangin aja 10 ribu sehari, paling cuma bisa makan 2 kali @ 5.000 buat siang dan malem. Jadi paginya aku cuman makan mie atau roti. Bahkan aku inget banget, pernah hampir kehabisan duit di akhir-akhir bulan, sampai beberapa hari aku siang malem cuma makan nasi+tahu+sayur @ 2.500. Ya Allah, tapi tiap kali makan kayaknya terasa nikmat banget. Mungkin baru kali itu aku merasakan syukur yang mendalam bahwa selama aku hidup, ga pernah aku kekurangan makanan. Tidak sedikit orang-orang di luar sana yang sehari-hari terpaksa makan nasi basi, nasi aking, bahkan makanan untuk ternak demi menyambung hidup. Aku pun bertekad selalu menyisihkan 2.5% uang sakuku untuk berzakat dan menunaikan hak mereka. Read more of this post

Advertisements

Lumayan, Pernah Masuk Tivi :P

Wawancara eksklusif TVONE dengan Aisar :P

Wawancara eksklusif TVONE dengan Aisar 😛

Hari ini temen-temen dari tim LSI Design Contest (yang sampai sekarang blum sempet kuposting laporannya, baru banner doang), diundang ke studio TVONE di acara Apa Kabar Indonesia bersama Indy Rahmawati. Berikut ini beberapa skrinsutnya Read more of this post

Akhirnya, Presiden Perempuan Pertama KM ITB

“Emang seberapa yakin lw bakal menang, Shan?”, tanyaku di suatu kesempatan menjelang masa kampanye.
“Hmm.. gw yakin menang, selama masih banyak anak ITB yang menginginkan perubahan di KM. Gw pengen KM bisa jadi wadah buat semua kalangan, semua jenis mahasiswa. Konsekuensinya, ya orang-orang yang biasa aktif di KM mesti bisa terbuka nerima orang-orang baru, dengan latar belakang, pola pikir yang berbeda-beda”

Shana Fatina Sukarsono, tadi malam akhirnya sukses terpilih menjadi Presiden KM selanjutnya, lewat perolehan suara yang beda tipis, 28 suara, mengungguli rival utamanya, Gilang. Yang istimewa adalah, Shana menjadi presiden perempuan pertama sepanjang sejarah KM ITB -sesuatu yang dianggap sebagai prestasi bagi sebagian orang, namun mungkin juga “aib” bagi sebagian lainnya-.

Bagiku, Shana memang kawan yang menyenangkan. Pembawaan alaminya : ramah, supel, murah senyum, gaul, n’ care banget. Tidak heran, Shana punya daya rangkul yang kuat ke semua kalangan di ITB : akademisi, peneliti, aktivis, entrepenuer, seniman, opreker, anak band, anak dugem, de el el. Aku rasa inilah modal terpenting dia sebagai presiden KM, yang harus tetap dia jaga sebaik-baiknya.

Yang jelas, mulai detik ini, aku dan ribuan mahasiswa ITB lain siap menyaksikan bukti dari janji-janji Shana. Ekspektasiku sederhana aja deh : Campus Channel, program yang dia rintis sejak jadi menteri Kominfo, dan denger-denger udah ngabisin duit > 100 juta. Can you make it (more) real?

Selamat dan Sukses, buat Shana – Bagus!
Buat Bolang, ditunggu kontribusi nyatanya, ga pake embel-embel “presiden” gapapa kan
Buat Rufi, maju lagi taun depan ya.. Salut 2005 yang pemberani!