Belajar Korupsi dari Orang Jepang

Ini kejadian menarik yang baru saja saya alami.
Saya bersama 3 orang Jepang pergi dinas ke luar kota, tepatnya daerah Ishikawa-ken, sekitar 1 jam penerbangan dari Tokyo. Kami menginap di hotel kelas menengah, bertarif dasar sekitar 7000 Yen (Rp. 700.000), tanpa breakfast maupun fasilitas tambahan lainnya.

Menariknya, rekan-rekan Jepang saya paham betul, mereka bisa dapat tarif diskon kalau booking via merchant atau website tertentu. Orang Indonesia (diwakili oleh saya), pasti langsung mikir nih, bisa kali ya dapet tiket diskon, tapi nota-nya harga biasa, jadi pas klaim uang akomodasi ke kantor kita untung πŸ˜€
Baka! tentu aja gak bisa, emangnya di Indonesia, bisa minta nota kosong.

Ternyata oh ternyata, orang Jepang punya cara yang lebih “smart”. Mari kita simak perhitungan ini.
1. Tarif normal : 7000 Yen
2. Tarif diskon : 5500 Yen
3. Tarif diskon + special gift “QUO Card” : 6500 Yen

Dan semua orang Jepang kompakan ambil alternatif yang nomor 3.
Wait! Kenapa gak pilih yang paling murah?? Dan apa pula itu QUO Card, kenapa pilih itu?

Well, QUO card ternyata adalah semacam kartu telepon. Nominalnya persis 1000 Yen, jadi memang 6500 Yen itu = tarif hotel diskon + harga kartu itu, walaupun diembel-embeli “gift”. Bedanya dgn kartu telepon, QUO card itu bisa dipakai untuk BELANJA di convinient store n’ supermarket. Dan benar saja, sesampainya di hotel masing-masing orang mendapat “gift” kartu belanja 1000 Yen. Dan mendapat 1 kartu lagi setiap harinya, jadi kasarnya 1000 Yen/hari tambahan uang saku.

Got it? Si hotel bakal ngeluarin nota “menginap sekian malam” dgn tarif sekian, titik. Tinggal disetor ke bendahara, beres. Persoalan dapet “gift”, hanya pihak hotel dan kami yang tau πŸ™‚
So is it Korupsi or Not? But they said, we’re not crossing the line, we didn’t break the rule.