Bagaimana Sikap Kita Seharusnya Pada Ahmadiyah

Sejak keluarnya fatwa MUI tentang sesatnya ajaran Ahmadiyah, kekerasan terhadap pengikut jama’ah ini semakin menjadi-jadi. Perusakan dan penyegelan rumah ibadah jama’ah ini menjamur dimana-mana, bahkan pengusiran dan pembakaran rumah juga dialami warga Ahmadiyah, khususnya yang tinggal di daerah Lombok, NTB.

Kondisi ini sangat memprihatinkan bagi bangsa Indonesia, khususnya umat muslim di Indonesia. Perilaku kasar, beringas, dan watak premanisme yang ditunjukkan, sangat jauh dari jati diri seorang muslim sebagai rahmat bagi seisi alam raya. Terlebih, Ahmadiyah punya hubungan yang sangat dekat dengan Islam, jika tidak bisa dikatakan bahwa Ahmadiyah = Islam. Aku jadi teringat pada saat Rasul menaklukkan kaum kafir Quraisy (yang jelas permusuhannya) di kota Mekkah, seluruh pasukan bahkan tidak diperbolehkan merusak sebatang pohon pun, apalagi menghancurkan bangunan.

Ahmadiyah bukanlah ajaran sesat. Karena agama yang sesat adalah agama yang mengajarkan kebencian, permusuhan, melupakan kasih sayang, mendorong penganutnya untuk berbuat kejahatan dan kerusakan di muka bumi. Dan tentunya, tidak ada satu pun agama yang kita anut memiliki ciri-ciri di atas. Sebaliknya, agama lah penuntun bagi akhlak dan tingkah laku manusia, penebar kasih sayang dan perdamaian di muka bumi.

Selama ini, ajaran Ahmadiyah divonis sebagai penyimpangan dari Islam karena ditengarai memiliki nabi “penerus” setelah Muhammad, serta kitab suci selain Al-Qur’an. Nabi yang dimaksud adalah Mirza Gulam Ahmad, pendiri Jama’ah Ahmadiyah. Namun, berkali-kali pentolan Jama’ah Ahmadiyah menyuarakan klarifikasinya atas hal tersebut. Mereka menyatakan bahwa Ahmadiyah sepenuhnya mengimani Allah dan Rasul terakhir, sebagaimana ummat Muslim lainnya. Terakhir, mereka mengeluarkan 12 butir pernyataan resmi untuk memperjelas kesimpang-siuran pengetahuan masyarakat terhadap ajaran ini. (lihat di sini)

Pun seandainya ada ajaran Ahmadiyah yang tidak cocok atau sefaham dengan kita, marilah sikapi dengan dewasa. Perbedaan pandangan bukanlah sesuatu yang tabu dalam Islam, dan bukan sesuatu yang harus dilenyapkan dengan menempelkan label “sesat” disana-sini. Bukankah Allah memberikan 2 pahala untuk hasil ijtihad yang tepat, dan 1 pahala untuk hasil ijtihad yang tidak tepat?

32 Responses to Bagaimana Sikap Kita Seharusnya Pada Ahmadiyah

  1. Fajar says:

    siapa dulu yang ijtihad
    kalo yang ijtihad nya orang sembarangan sih
    malah dapet dosa

  2. aisar says:

    @ Fajar :

    Tiap orang berhak untuk berijtihad. Tentunya, sebatas kemampuan & ilmu yang ia miliki..

    ‘Mintalah fatwa dari hatimu. Kebajikan itu adalah apa-apa yang menentramkan jiwa dan menenangkan hati, dan dosa itu adalah apa-apa yang meragukan jiwa dan meresahkan hati, walaupun orang-orang memberikan fatwa kepadamu dan mereka membenarkannya.’ ”(HR. Ahmad dan Darimi, Hadits hasan)

  3. Ijtihad juga ada ukurannya. Tdk bisa asal yakin to’. Ahmadiyah shrsnya lebih transparan sejak awal dalm mengembangkan ajarannya. Krn umumnya Ahmadiyah berasal dari india yg di bawa Mr.Mirza Ghulam dan sudah dipastikan sesat. Klo yg berkembang di indonesia tdk ada hubungannya dg si Mirza cs, kenapa harus di tuduh sesat? Saat ini banyak ajaran islam baru yg tersamar. perlu kehati2an dan sudah selayaknya kita kembali mempelajari islam dg benar dan tentunya dg orang yg tepat.

  4. cempluk says:

    agama yang berdasarkan al quran dan al hadist aja deh..

  5. F4154LMAN says:

    iya ngga perlu ikut2an yang sesat lah.. islam yang benar atau sesat ngukurnya sederhana aja, sesuai ngga dengan alquran dan ngikut ngga sunnah rasul..

  6. ridwan says:

    lihat aja di akhirat deh.:mrgreen:
    gw sih ikutin ulama aja, lha ilmu gw ga seberapa ga bisa seenaknya ceplas ceplos ke orang laen. Kecuali ijtihadnya buat diri sendiri, bukan disebarin ke orang laen.😛

  7. aisar says:

    @ rizki :
    ga enak pake kata sesat.. gimana klo kita sebut “khilaf”
    bisa jadi ahmadiyah yang di indonesia itu ya perkumpulan kyk muhammadiyah, NU, tarbiyah, HTI. masing-masing juga kan punya fatwa + kebiasaan yg beda2

    @ cempluk :
    betul, dua pegangan yang ga bole dilepas..
    hmm.. sebenernya problem muncul saat dua pedoman tadi “dibumikan” ke kehidupan sehari-hari, kehidupan masa kini. muncullah penafsiran yang beragam..

    @ F4154LMAN :
    sama kyk di atas penjelasannya

    @ ridwan :
    haha.. setuju gw.. ntar di akhirat juga ketahuan mana yg bener + salah.. ngapain juga diributin di dunia.. ngapain juga pake nuduh2 sesat, ngrusak2 ga jelas..

  8. Bagaimana sikap kita seharusnya pada Ahamadiayh;

    Harus mengerti dahulu Kitab-Hikmah, Tuarat-Injil sesuai Ali Imran (3) ayat 48, yaitu Al Baqarah (2) ayat 87, yaitu Al Fath (48) ayat 29 dan Ash Shaff (61) ayat 6,7,8,14.

    Kalau sudah mengerti aturan dalil rumusan kitab suci Muhammad saw. baru dapat menyelesaikannya.

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

  9. ikhfa says:

    bahwa jangan pake kekerasan.. setuju!
    bahwa Ahmadiyah bukan aliran sesat.. ga setuju!
    Ahmadiyah mengakui Muhammad sebagai Rasul, tapi di bukunya Mirza Ghulam Ahmad(MGA), beliau mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Muhammad dalam Al-Quran adalah dirinya(MGA)..
    Kalo Ahmadiyah ga mengakui MGA sebagai Nabi dan Rasul, berarti emang bukan Ahmadiyah (yang asli) lagi..

    wallahu a’lam

  10. aisar says:

    @ Soegana : ampun lah kk..

    @ ikhfa : aku ambilin tulisan dari milis ahmadiyah,

    Mari kita mulai dengan “Nabi Pamungkas” – sangat jelas bahwa Mirza Ghulam Ahmad sendiri menyatakan bahwa Nabi Muhammad saw. adalah nabi pamungkas. Beliau menyatakan:

    “Tuduhan yang dilontarkan terhadap diri saya dan terhadap jemaat saya bahwa kami tidak mempercayai Rasulullah s.a.w. sebagai Khaataman Nabiyyiin merupakan kedustaan besar yang dilontarkan pada kami.
    Kami meyakini Rasulullah s.a.w. sebagai Khaatamul Anbiya’ dengan begitu kuat, yakin, penuh makrifat dan bashirat, yakni seratus ribu bagian dari yang itu pun tidak dilakukan oleh orang-orang lain.
    Dan memang tidak demikian kemampuan mereka. Mereka tidak memahami hakikat dan rahasia yang terkandung di dalam khaatamun nubuwwat Sang Khaatamul Anbiya’. Mereka hanya mendengar sebuah kata dari para tetua mereka, tetapi tidak tahu menahu tentang hakikatnya. Dan mereka tidak tahu apa
    yang dimaksud dengan Khaatamun Nubuwwat. Apa makna mengimaninya?
    Namun, kami dengan penuh bashirat (Allah Ta’ala yang lebih tahu) meyakini Rasulullah s.a.w. sebagai Khaatamul Anbiya’. Dan Allah Ta’ala telah membukakan hakikat Khaatamun Nubuwwat kepada kami sedemikian rupa, yakni dari serbat irfan yang telah diminumkan kepada kami itu kami mendapatkan suatu kelezatan khusus yang tidak dapat diukur oleh siapa pun kecuali oleh orang-orang yang memang telah kenyang minum dari mata-air ini juga.” (Malfuzhaat, jld. I, hlm. 342)

    “Tidak ada kitab kami selain Qur’an Syarif. Dan tidak ada rasul kami kecuali Muhammad Musthafa shallallaahu `alaihi wasallam. Dan tidak ada agama kami kecuali Islam. Dan kita mengimani bahwa nabi kita s.a.w. adalah Khaatamul Anbiya’, dan Qur’an Syarif adalah Khaatamul Kutub.
    Jadi, janganlah menjadikan agama sebagai permainan anak-anak. Dan hendaknya diingat, kami tidak mempunyai pendakwaan lain kecuali sebagai khadim Islam. Dan siapa saja yang mempertautkan hal [yang bertentangan dengan] itu pada kami, dia melakukan dusta atas kami.
    Kami mendapatkan karunia berupa berkat-berkat melalui Nabi Karim s.a.w. Dan kami memperoleh karunia berupa makrifat-makrifat melalui Qur’an Karim. Jadi, adalah tepat agar setiap orang tidak menyimpan di dalam kalbunya apa pun yang bertentangan dengan petunjuk ini. Jika tidak, dia akan mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah Ta’ala.
    Jika kami bukan khadim Islam, maka segala upaya kami akan sia-sia dan ditolak, serta akan diperkarakan.” (Maktubaat-e-Ahmadiyyah, jld. 5, no. 4)

    Jadi, karena Mirza Ghulam Ahmad sendiri menyatakan bahwa Nabi Muhammad saw. adalah nabi pamungkas (khaatamul anbiya’), dengan demikian adalah tidak mungkin bagi orang Ahmadiyah untuk mengatakan Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi pamungkas. Nabi Pamungkas bagi Jemaat Ahmadiyah adalah
    Nabi Muhammad saw. Saya yakin, ini adalah doktrin utama yang tidak bisa ditawar-tawar lagi bagi Jemaat Ahmadiyah.

  11. assalamu’alaikum
    ketika Aisar lahir ,saya tinggal di Br Biaung Kesiman Kertalangu DENPASAR timur dekat pantai padang galak.
    saya dan istri seronok/suka tinggal di sana,seperti seronok membaca tulisan Aisar yang penuh tanda tanya,apakah Aisar orang ahmadi. kalau saya mubalighnya

  12. asyarief says:

    assalamu’alaikum

    akh…sudah baca buku ahmadiyyah?
    sudah pernah sholat di masjid mereka?

    ibu saya pernah sholat di masjid mereka di semarang, dan lgsg di pel lantainya..(cuma di tempat ibu saya sholat)
    dan mereka mendatangi ibu saya dan mendakwahkan ajaran mereka…
    semisal: “klo sholat disini saja, jgn di masjid lain…ahmadiyya itu blablabla…masjid lain itu blablabla”

    mungkin mereka sudah bertobat…hal ini dialami juga oleh sempalan ahmadiyyah yg lain sebelumnya (klo aisar blon tau, banyak baca dulu buku2 ahmadiyyah)…alhamdulillah

    saran saja…
    pendapat akh aisar terlalu berat sebelah…
    coba pakai Alquran wassunnah beserta cara pakainya…
    sebagaimana mengenai ijtihad…
    para ulama sudah membuat sistematikanya…
    baca dulu kitab2 mengenai kaidah ushul dan seterusnya..

    wallahu’alam

    wassalamu’alaikum

  13. Assalamu’alaikum
    buat asyarief ;masa iya bekas shalat ibumu dipel sih….
    saya pernah bertugas di sana,kan lantainya berkarpet jadi bagaimana mau dipel.bahaya lo pitnah itu,lebih keras dari pembunuhan .mengenai komen,terpulang dari sudut mana kita melihat.saya yakin itu baru pembukaan saja.untuk bukti sila datang ke Jln Erlangga Raya 7A Semarang atau alamat Jemaat
    Ahmadiyah lainnya.Bila di Sabah Malaysia.sila datang ke 128A
    Sunny garden House Kota kinabalu,saya menunggu.

  14. aisar says:

    @ mubarak ahmad
    Ya aku tau daerah itu. Dulu sewaktu kecil aku tinggal di daerah Kreneng.
    Aku sendiri bukan orang ahmadi, hanya sebatas tau dan bersimpati atas cobaan yang sedang dihadapi saudara2 sekalian, pengikut ahmadiyah.

    @ asyarief
    kejadian yang dialami ibu asyarief, mungkin terjadi karena adanya miskonsepsi antara “ulama-ulama” ahmadiyah dengan para pengikutnya yang awam.
    padahal hal seperti ini tidak seharusnya terjadi kalau ditelisik lagi dari buku-buku “sakti” ahmadiyah (seperti kutipannya yang aku tulis di komentar sebelumnya)

    pendapatku memang bertujuan membela, dan menyeimbangkan negative issues yang selama ini beredar (jadi wajar saja kalau asyarief, yang punya pendapat berlawanan, menganggapnya berat sebelah)

    terus terang tulisan di atas tidak bertujuan mengambil sebuah fatwa tentang ahmadiyah, karena aku tau kapasitasku bukanlah sebagai orang yang ahli dalam hal ini. ya, hanya saja insting “kemanusiaan”-ku tidak bisa menerima perlakuan amoral yang dialamatkan kepada pengikut ahmadiyah.

    Asyarief mungkin punya dalil-dalil ataupun fatwa ulama salafus shalih yang bisa memojokkan ajaran ahmadiyah. Tapi, saranku jangan melihat masalah ini dari sisi itu saja. Mereka punya istri, punya anak yang seharusnya punya masa depan. Mereka punya bisnis, punya penghidupan. Tidak sewajarnya semua itu dilibas dengan kekerasan atas nama “pemurnian agama”.

  15. ikhfa says:

    jadi bingung.. jadi selama ini siapa yang bilang kalo Mirza Ghulam Ahmad tuh nabinya Ahmadiyah?

  16. alif says:

    Buat Ikhfa anda tidak usah bingung,
    Yang bilang begitu adalah orang2 yang tidak mau menelaah kembali ajaran ahmadiyah dari sumbernya langsung, akibatnya yaitu menjadikan bualan tsb menjadi fitnah…
    seperti yang sudah dilakukan oleh sdr.Asyarif yang mengaku sudah membaca buku-buku ahmadiyah..
    boleh saya tanya buku apa yang sudah anda baca?
    Sdr. A Syarif menilai ahmadiyah bla-bla-bla baru sebatas dari “katanya ibu saya…” tanpa mau bertabayun dahulu atas peristiwa tsb. dan itu adalah Fitnah yang luar biasa kejinya. logikanya kalau tempat sholat Ibu anda di pel oleh mereka (ahmadi) bagaimana mungkin kemudian mereka merayu ibu anda agar terus-terusan sholat disitu…(emangnya ngga cape ngepelin terus)
    Apa yang dilakukan oleh sdr. Aisar sudah benar, yaitu menelaah langsung dari sumbernya ahmadiyah..
    Itulah yang disuruh oleh qur’an yaitu periksa kembali berita dari orang fasik agar anda tidak menyesal dikemudian hari..
    jangan seperti sdr. A Syarif yang tidak mau bertabayun tapi langsung memvonis seperti orang yang sudah mengetahuinya..
    ibarat kata: kalau Anda orang Islam ingin tahu sejarah Nabi Muhammad saw carilah tulisan2 yang dibuat oleh orang Islam jangan mencari dari orientalis anti Islam, begitu juga jika anda ingin tahu ajaran ahmadiyah sebenarnya carilah tulisan2 dari ahmadiyah jangan membaca dari pihak anti ahmadiyah.
    wassalam

  17. deden says:

    mampir tapi gak kasih komen…. :mrgreen:

  18. Wisnu Sudibjo says:

    Lagi lagi tulisannya ngawur. saya lebih percaya kepada MUI daripada kepada mereka. kenapa? karena ulama lah pewaris para nabi.

    mas aisar, tolong kalo nulis dipikir dulu. saya tahu antum ni aktivis salman, tapi setahu saya gak ada aktivis salman yang pkirannya seliberal sampean.

    nulis se enaknya saja.

    ahmadiyah itu memang menyatakan bahwa mereka mengakui nabi muhammad sebagai khatamun nabiyyin, tapi yang mereka maksud sebagai khatamun nabiyyin inilah yang keliru, mereka mengartikan bahwa khatamun nabiyyin itu adalah cincin nabi. penjelasan lengkap kenapa itu gak cocok bisa di lihat di situs – situs pergerakan.

    so kalo gak bisa ngomong bener jangan nulis. lebih baik diam daripada banyak omong.

    biar nanti masalah sampean ini tak diskusikan dengan temen – temen salman yang lain. sekedar mengklarifikasi apakah antum ini memang bener aktivis salman, kalo bener aktivis salman, terus selanjutnya apakah antum ini pernah ke luar negeri dsb, sebab biasanya orang yang baru dari luar negeri itu jadi agen CIA. kayak Ulil Abshar itu. permasalahan tulisan antum akan saya bahas serius. semoga bisa menjagi introspeksi buat temen – temen salman

  19. irfan says:

    salam kenal,
    afwan sebelumnya, tulisan aisar tentang jilbab dan demokrasi saya postingkan di forum hati (hati.unit.itb.ac.id/forum) untuk didiskusikan di sana tanpa minta izin dahulu. kalau aisar tidak berkenan nanti saya akan minta moderatornya agar menghapus postingan saya itu.

    sekali lagi afwan.

  20. aisar says:

    @ Wisnu -> Lagi-lagi komentarnya ngawur (ini gaya situ lagi :p)
    Mas, saya belum pernah lihat di bacaan Ahmadiyah tentang khatamun nabiyyin yang ditafsirkan menjadi cincin nabi. Justru penafsiran itu banyak ditemui di jurnal-jurnal pemikiran Islam kontemporer, seperti yang bisa dibaca di tulisan (Alm.) Nurcholis Madjid.
    Anda bisa melihat Mirza Gulam Ahmad itu seperti seorang Taqiyyuddin An Nabhan bagi para pengikut Hizbut Tahrir, atau Hasan Al-Bana bagi para pengikut Ikhwanul Muslimin.
    Saya kira gak ada hubungannya sama aktivitas saya di kampus atau di Salman😀 Kata orang Bandung mah “Blog aing kumaha aing”

    @ kang habibie -> oh saya tidak berkeberatan sama sekali. mudah-mudahan bisa menjadi bahan diskusi yang kritis dan saling memperkaya ilmu🙂

  21. irfan says:

    tentang pendapat mereka bahwa khataman nabiyyin adalah stempel/materai nabi dan tentang mirza ghulam ahmad adalah nabi yang tidak membawa syariat baru bisa dicek di situs resmi mereka. http://www.ahmadiyya.or.id/

  22. Anwar Shaleh says:

    Assalamu’alaikum, salam kenal dan ikutan sharing kawan.
    Sejauh yang kutahu, beberapa teks masa lalu seperti dalam Buku Kumpulan Muktamar NU, pada Muktamar ke 3 tahun 1928 (28 September 1928) mereka menjelaskan seperti ini (halaman 30):
    Soal:
    Bagaimana pendapat Muktamar tentang Nabi Isa a.s. setelah turun kembali ke dunia. Apakah tetap sebagai Nabi dan Rasul? Padahal Nabi Muhammad s.a.w. adalah nabi terakhir. Apakah madzhab empat itu akan tetap ada pada waktu itu?
    Jawab:
    Kita wajib berkeyakinan bahwa Nabi Isa a.s itu akan diturunkan kembali pada akhir zaman nanti sebagai Nabi dan Rasul yang melaksanakan syariat Nabi Muhammad s.a.w. Hal itu tidak berarti menghalangi Nabi Muhammad s.a.w. sebagai Nabi yang terakhir, sebab Nabi Isa a.s. hanya akan melaksanakan syariat Nabi Muhammad s.a.w. sedangkan madzhab empat pada waktu itu akan hapus (tidak berlaku).

    Nah ini menjadi terang dan jelas saudara kita di Muktamar tersebut tidak menyoal tentang kehadiran seorang nabi setelah Nabi Muhammad s.a.w. karena memang demikian bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi terakhir yang membawa syariat terakhir yang sempurna dan paripurna inikan jadi pujian kita kepada junjungan yang Mulia Rasulullah s.a.w. Tidak perlu ada ketersinggungan tetapi justru penghargaan yang tinggi kepada Nabi Muhammad s.a.w. dan memang seharusnya demikian bagi pengikutnya yang setia.
    Dilain pihak banyak pesan2 Nabi Muhammad s.a.w. yang mengkabarkan akan datangnya Nabi Isa a.s. kelak. Yang jadi persoalan adalah SIAPA NABI ISA a.s. itu? Apa ia Nabi Isa a.s. yang dulu atau orang lain? Yang kutahu soal Ahmadiyah adalah pendirinya Mz. Ghulam Ahmad mengaku sebagai Nabi Isa tersebut, sehingga ia disebutnya sebagai Al-Masih Al-Mau’ud. Sikap toleran adalah pilihan yang tepat menurut Zuhairi Misrawi (penulis Buku Al-Qur’an Kitab Toleransi) karena memang terbuka peluang tersebut untuk dimaknai. Yang penting buat kita selama keyakinan kita mampu mencerahkan hidup kita sehingga menjadi lebih baik dan lebih baik lagi, itulah yang diajarkan Islam.
    Wassalamu’alaikum.

  23. Tottz says:

    Bingung neeh.. Tapi maksud Tottz begini.. Tottz mengutip “marilah sikapi dengan dewasa” ya ga perlu dengan kekerasan.. Sama-sama orang Indonesia Gaperlu ada permusuhan.. sikapi dengan Arif.. Kebanyakan orang-orang Indonesia ga berfikir panjang itu lho yang membuat Kacau… Hikz..😦
    Salut untukk Aisar yang peduli terhadap Kedamaian..

  24. irfan says:

    pak anwar shaleh bisa kasi tau rujukan yang mengatakan mirza ghulam ahmad mengaku sebagai nabi isa?

    setau saya kemarin ada apel siaga menyerukan ahmadiyah dibubarkan. pesertanya ratusan ribu orang tetapi polisi yang jaga hanya sekitar 500 orang. menuntut bubarnya ahmadiyah tidak selalu anarkis kok. yang anarkis itu oknum aja.

  25. irfanhanif says:

    Kasian ah mereka (Ahmadiyah), mereka kan golongan yang tidak tahu. Setahu sya, klo orang salah tapi g mengerti itu ga berdosa.😕

    Ngapain sih pemerintah malah bikin fatwa beginian, ga memperhitungkan tingkat masyarakat kita uda sedewasa apa nih. Klo ada yg bertindak anarkis karena hal ini, mui harusnya bertanggung jawab sebagai provokatornya.

    Yang aneh lagi, larangan pemeluk Ahmadiyah untuk beraktivitas. Sebatas apa nih? merekakan juga beraktivitas sholat ma puasa, masak dilarang. >___<

  26. mirza says:

    #antum nulis:
    Ahmadiyah bukanlah ajaran sesat. Karena agama yang sesat adalah agama yang mengajarkan kebencian, permusuhan, melupakan kasih sayang, mendorong penganutnya untuk berbuat kejahatan dan kerusakan di muka bumi. Dan tentunya, tidak ada satu pun agama yang kita anut memiliki ciri-ciri di atas. Sebaliknya, agama lah penuntun bagi akhlak dan tingkah laku manusia, penebar kasih sayang dan perdamaian di muka bumi.
    #pertanyaan saya:
    Buddha, Hindu, Kristen, Judaism, semua mengajarkan kebaikan dan perdamaian. Lalu apakah lantas mereka juga berarti bukan orang-orang yang sesat? Islam mengajarkan untuk memerangi kemungkaran dan kekafiran jika orang-orang itu tidak mau menerima dakwah kita, apakah lantas Islam itu sesat? Antum seorang muslim?! Kalau iya, punya hubungan apa dengan ulil dan muqsith?!
    ————————–

    Yang kasihan Ahmadiyah atau pengikutnya yang sebenarnya tidak tahu apa-apa? Kalo kasihan sama pengikutnya, masih bisa saya pahami, tapi kok kasihan sama Ahmadiyah.
    Coba cek ini deh…ini ulasan tentang Ahmadiyah, dan mas Aisar sebaiknya koreksi postingan yang ini. Atau antum memang liberal, seperti para pembela Ahmadiyah?

    Bahan yang bisa dijadikan pertimbangan untuk mengetahui ahmadiyah, dengan sudut pandang yang lain:
    http://kaferemaja.wordpress.com/2008/10/13/pendukung-ahmadiyah-lebih-berbahaya/#more-385

    Lain kali, nulis tu pake ilmu mas. Apalagi soal agama, antum bakal diminta pertanggungjawabannya. Jangan menyesatkan orang. Jadi kalau nggak ngerti, mending nggak usah posting. Apalagi kalo cuma demi hit rate.
    Afwan saya komentar nyelekit gini…mudah-mudahan aja pesan saya tersampaikan.

  27. mirza says:

    mubarak ahmad sabah
    Assalamu’alaikum
    buat asyarief ;masa iya bekas shalat ibumu dipel sih….
    saya pernah bertugas di sana,kan lantainya berkarpet jadi bagaimana mau dipel.bahaya lo pitnah itu,lebih keras dari pembunuhan .mengenai komen,terpulang dari sudut mana kita melihat.saya yakin itu baru pembukaan saja.untuk bukti sila datang ke Jln Erlangga Raya 7A Semarang atau alamat Jemaat
    Ahmadiyah lainnya.Bila di Sabah Malaysia.sila datang ke 128A
    Sunny garden House Kota kinabalu,saya menunggu.
    ————————————-
    Halah…
    Ni orang ketahuan banget bohongnya. Tugas tahun berapa? Berapa tahun? tinggal dimana? Kenapa pindah ke Sabah?
    Malah numpang ngiklan…

  28. Ahmadiyah karena telah datang ajal ilmu agama dari umat-umat beragama sesuai Al Araff (7) ayat 34,35; dengan datangnya era globalisasi sesuai Al Isro (17) ayat 104, Al Kahfi (18) ayat 99, Al Qariah (101) ayat 4; seharusnya menciptakan pengumpulan umat agama-agama bersatu sesuai Al Baqarah (2) ayat 148, An Nahl (16) ayat 93; dengan meningkatkan dari agama disisi Allah adalah Islam sejak dahulu Adam disebut kaffah kedalam AGAMA ALLAH untuk memenuhi Ali Imran (3) ayat 19,81,82,83,85,Al Maidah (5) ayat 3, Al Hajj (22) ayat 78, Al Baqarah (2) ayat 208, menuju kemenangan dengan berbondong-bondong memenuhi An Nashr (110) ayat 1,2,3.

    Salamun ‘alaikum daiman fi yaumiddin, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

  29. Menghadapi Ahmadiyah, ….gampang! ;
    Sesuaikan saja dengan Al Kahfi (18) ayat 29: Kebenaran itu datangnya dari Tuhan, maka YANG MAU BERIMAN SILAHKAN dan YANG MAU KAFIR SILAHKAN, tidak ada paksaan dalam agama sesuai Al Baqarah (2) ayat 256.
    Anehnya manusia (FPI sesuai At Taubah (9) ayat 97), sukanya memaksa !!! Tidak sesuai dengan hukum Allah tersebut diatas.

    Salamun ‘alaikum daiman fi yaumiddin, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

  30. arif says:

    Kalo ahmadiyah tidak sesat maka Musailamah si nabi palsu pun tidak sesat. Tidak merusak ketika menaklukkan makkah tapi menghancurkan sesembahan2 mereka, di mana tolerannya?

  31. Menurut Kitab Suci Muhammad saw. tentang Ahmadiyah, ikuti saja patokan dari Allah menurut Al Kahfi (18) ayat 29: Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu, barangsiapa yang menghendaki beriman silahkan dan barangsiapa yang menghendaki kafirpun silahkan. Ahmadiyah mengaku orang Islam, biarlah dia Islam.
    Al Baqarah (2) ayat ayat 256: Tidak ada paksaan dalam Agama.

    Orang yang tidak berpersepsi agama seperti ini, ingkar ayat Allah

    Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3.

  32. Ahmadiyah dengan umat Islam sebelumnya adalah seumpama Taurat dan injil sesua Al Fath (48) ayat 29 dan Ash Shaff (61) ayat 6,7,8,14 sebagaaaaimana Isa dan Musa memenehi Al Baqarah (2) ayat 87
    Penjelasannya dalam Buku Panduan
    “Bhinneka Catur Sila Tunggal Ika”
    Bonus
    “Skema Tunggal Ilmu Laduni Tempat Acuan Ayat Kitab Suci Tentang Kesatuan Agama”
    Penulis Soegana Gandakoesoema
    Tersedia di
    Perumahan Puri BSI Permai Blok A3
    Jl. Samudera Jaya
    Kelurahan Rangkapan Jaya
    Kecamatan Pancoran Mas
    Depok 16435
    Telp./Fax. 02177884755
    HP. 085881409050

    Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: