Anak SD Jaman Sekarang..

“saya tau kak, kodenya”
“kode apa?”
“itu, yang banyak hantunya, kak. http://www.primbon.com”

aku membuka firefox, dan membiarkan si adik menuliskan alamat web tersebut. Mata anak kelas 4 SD itu mulai membelalak saat halaman web terbuka. 3 teman sebayanya turut serta “tenggelam” dalam gambar-gambar mistis, entah nyata entah rekayasa, yang disajikan oleh situs http://www.primbon.com.

“Eta pocongna nu di handap!” (Itu pocongnya di bawah)
“Emang pocongnya beneran ya?”, tanyaku
“Beneran kak, itu liat aja”
“Ah, kakak juga bisa bikin hantu kayak gitu”
“Bisa emang kak?”
“Bisa dong. Tinggal ditambahin aja bayangan putih-putih ke foto pake komputer. Makanya, jangan langsung percaya sama gambar hantu di internet ya”

Dialog itu terjadi hari minggu kemarin, saat sesi mentoring pembinaan adik asuh Gamais. Awalnya, aku pikir adik-adik kelas 4 SD tersebut belum terlalu familiar dengan laptop dan internet. Maklum, adik-adik asuh Gamais rata-rata merupakan anak yang kurang mampu secara finansial dan bersekolah di tempat yang tidak terlalu “melek teknologi”. Ternyata, dugaanku salah. Mereka tidak asing lagi dengan google, primbon.com, situs-situs mistis, situs-situs cheat game, bahkan situs-situs 17+.

Mereka mengakui mengenal internet dari warnet yang ada di dekat sekolah. Wah, luar biasa. Seingetku, pertama kalinya aku bersentuhan dengan dunia online adalah semasa SMP. Itupun saat warnet masih memasang tarif di atas 7000 / jamnya 🙂

Bagiku, ini bisa jadi pertanda baik, tapi bisa juga pertanda buruk apabila keingintahuan dan rasa penasaran mereka tidak dibatasi dengan pendidikan internet yang memadai. Aku kaget saat memperhatikan 4 anak tersebut berselancar di dunia maya, ada salah satu anak yang nyeletuk sebuah alamat situs, dan ternyata anak-anak lainnya memberi respons seolah paham bahwa itu adalah situs dewasa. Naudzubillah..

Apakah pemblokiran situs-situs porno bisa menjadi solusinya? Apa sudah ada program edukasi “internet sehat” ke sekolah-sekolah dasar dan menengah? Aku rasa kita semua patut peduli terhadap masalah ini.

Advertisements