Indonesia butuh 2% Entrepreneur (dan 98% Engineer)

Kami mengikuti sebuah training yang unik. Temanya kira-kira tentang dasar-dasar manufakturing. Disana kami diminta untuk membongkar sebuah laptop hingga ke bagian terkecil, sampai sudah tidak bisa dipisahkan lagi dengan alat pertukangan biasa. Goal berikutnya: laptop harus dikembalikan dalam keadaan utuh, seperti sedia kala. Huf!

Butuh waktu 2 jam untuk membongkarnya, sambil mencatat nama dan letak masing-masing part, cara memasangnya kembali, juga jumlah dan ukuran sekrup-sekrup yang digunakan. Ada sekitar 35 part yang berhasil kami pisahkan, dan butuh waktu hampir 2 kali lipat untuk menyusunnya lagi ke dalam bentuk laptop.

Hal yang menarik di tengah training, yakni kami diminta mengestimasi, berapa sih harga pokok bahan-bahan dasar (raw material) yang dibutuhkan untuk membuat 1 laptop. Memang, ketika masih berbentuk laptop, ia terlihat seperti blackbox dengan komponen dan mekanisme yang kompleks sekali, sulit untuk mengestimasi berapa harga instrinsik dari si laptop. Namun ketika sudah dipreteli satu-satu, mulai tergambar di kepala kami, berapa gram besi, plastik, aluminium, silikon, juga emas yang dibutuhkan untuk membuat komponen-komponen laptop ini.

Alat-alat secanggih apapun elektronik, komunikasi, mobil, pesawat terbang, hingga pembangkit nuklir, semuanya terbuat dari bahan-bahan yang diambil dari perut bumi. Ya, bahkan nggak sedikit yang diambil dari perut bumi kita, Indonesia. Hanya saja, ada segelintir orang di belahan bumi lain yang mempelajarinya, menemukan manfaat dan keistimewaannya, untuk kemudian direkayasa menjadi barang-barang ajaib, yang dulu tidak ada menjadi ada, yang dulu tidak mungkin menjadi mungkin.

Saya penasaran dengan hitung-hitungan harga tadi. Kemudian si Sensei menjabarkan hasil penelitiannya yang lebih akurat, yakni harga raw material untuk membuat sebuah handphone. Dengan banderol harga 2 juta, ternyata harga raw material yang dibutuhkan hanya 20 ribu perak! 1% (Satuu Persen) dari harga produk!

SO, kemana 90%-nya lagi? Saudara-saudara, setiap hari berton-ton logam, dan aneka hasil tambang kita diekspor, untuk kemudian kita nikmati hasil penjualannya. Tapi segelintir manusia, segelintir negara tadi mampu mengeruk 90x lipat dari apa yang kita peroleh. Sementara itu kita bersuka cita menikmati hasil pembangunan, hasil kemajuan zaman, kecanggihan teknologi, tapi siapa sebenernya yang pantas bersuka cita? Kita yang 1% inikah?

Presiden Obama pernah mengeluarkan satu pernyataan menohok ketika speech di depan pemimpin-pemimpin Arab. Dia bilang: antum semua masih beruntung punya minyak. ane punya data nih, seandainya antum ga punya minyak, walopun semua negara Arab, semua middle east digabung dengan total jumlah penduduk 400 juta, barang2 jualan ekspor antum masih kalah dari Finlandia, yg cuma 5 juta penduduk. Kenapa begitu? Karena antum jual barang mentah, nggak punya industri buat ngolah,ย knowledge nggak berkembang, apalagi riset teknologi ga jalan. (dengan pengubahan dan penambahan seperlunya, red.)

Jadi menrut hemat saya alias IMHO, memang betul Indonesia butuh banyak Entrepreneur, katanya idealnya 2% dari jumlah penduduk. Berarti sisa 98%-nya harus jadi engineer, scientist, researcher, karena nggak bisa kita hanya mengandalkan jualan hasil bumi, harus ada rekayasa yang menambah manfaat dan nilainya.

Belajar Korupsi dari Orang Jepang

Ini kejadian menarik yang baru saja saya alami.
Saya bersama 3 orang Jepang pergi dinas ke luar kota, tepatnya daerah Ishikawa-ken, sekitar 1 jam penerbangan dari Tokyo. Kami menginap di hotel kelas menengah, bertarif dasar sekitar 7000 Yen (Rp. 700.000), tanpa breakfast maupun fasilitas tambahan lainnya.

Menariknya, rekan-rekan Jepang saya paham betul, mereka bisa dapat tarif diskon kalau booking via merchant atau website tertentu. Orang Indonesia (diwakili oleh saya), pasti langsung mikir nih, bisa kali ya dapet tiket diskon, tapi nota-nya harga biasa, jadi pas klaim uang akomodasi ke kantor kita untung ๐Ÿ˜€
Baka! tentu aja gak bisa, emangnya di Indonesia, bisa minta nota kosong.

Ternyata oh ternyata, orang Jepang punya cara yang lebih “smart”. Mari kita simak perhitungan ini.
1. Tarif normal : 7000 Yen
2. Tarif diskon : 5500 Yen
3. Tarif diskon + special gift “QUO Card” : 6500 Yen

Dan semua orang Jepang kompakan ambil alternatif yang nomor 3.
Wait! Kenapa gak pilih yang paling murah?? Dan apa pula itu QUO Card, kenapa pilih itu?

Well, QUO card ternyata adalah semacam kartu telepon. Nominalnya persis 1000 Yen, jadi memang 6500 Yen itu = tarif hotel diskon + harga kartu itu, walaupun diembel-embeli “gift”. Bedanya dgn kartu telepon, QUO card itu bisa dipakai untuk BELANJA di convinient store n’ supermarket. Dan benar saja, sesampainya di hotel masing-masing orang mendapat “gift” kartu belanja 1000 Yen. Dan mendapat 1 kartu lagi setiap harinya, jadi kasarnya 1000 Yen/hari tambahan uang saku.

Got it? Si hotel bakal ngeluarin nota “menginap sekian malam” dgn tarif sekian, titik. Tinggal disetor ke bendahara, beres. Persoalan dapet “gift”, hanya pihak hotel dan kami yang tau ๐Ÿ™‚
So is it Korupsi or Not? But they said, we’re not crossing the line, we didn’t break the rule.

21st Vision

Experience is not what happens to a man; it is what a man does with what happens to him.
-Aldous Huxley

This is my 7th month in Japan – a restless country, unsociable people, and erotic culture, those are common impression against them. It is used to be a huge question in my head, for what sake I’m coming here; seeking wealth and honour? gaining knowledge yet experience? or just escaping away from my responsibilities.

Well, new life had started. And as expected, it’s never been easy to switch it from one country to another. Missing couple links of language, custom, habit, manner are just everyday stories. Being so lonely in a city of 5,847/km2 people density, Tokyo, is what I had to settle in. Every time I tried to talk in Japanese, they seemed to refuse to understand, I just don’t know why. Then If I pose a genuine idea, they would just turn it down politely without saying clearly : “It’s not common here dude, so It can’t be”.

Day to day, I’ve been convincing myself, what a great chance it would be. Many people go travelling abroad to fulfil their fantasy about a happy life in other corner of the globe, but such a rare chance to struggle a daily-life there. You got to work there, make money, control expense, collaborate with fellows, be part of citizen, meet good and bad people, get accustomed with neighbour, see doctor when you’re sick, get arrested if you break the law, etc. Yeah, so many things will happen, and so many times to take action then experience it, invaluable.

Indonesian people in my age are in hot of talking about different options in life. Some of them prefer working in a big company, providing trusted contract, high salary and bonus, as well as tons of facilities- no matter if the job meet their current qualification or not. Few of them keep their mind to desperately find a job or next-grade school that really fits their skill and interest. While little of them refuse to work under else’s name, and run a self-business to satisfy their freedom.

For me, choosing options is not about who is right or wrong, superior or inferior, strong-hearted or weak-belief. The most important thing is a commonly spoken word : contribution. How well you can contribute to your family, nation, or even world-society, depends on how well you undergo your role. And you don’t have to be as genius as Einstein, or as rich as Gates, to claim your contribution. Just perform your best in everyday’s task, then if everybody does, your country and society will just get better undoubtedly.

Personally, I’m dividing my life into 3 phase, it’s called 20-20-20. I just finished my basic study for 20 years, then for the next 20 years I’d improve my profession, seek wealth, run some business, then after that, in the last 20 years (refer to commonly productive age, until 60’s), I’d spend my life to fight against poverty, corrupted government and law, and other social issues that might be encountered. Of course, only Allah knows could it be 20-20-20 or even less.

My favourite is prophet Muhammad, who is a quick, smart learner since youth, then become a great trader in his 20’s, and finally in 40’s started to dedicate his entire life as a prophet and great leader to the bless of human mankind. My second favourite is Muhammad Yunus, founder of Greemen Bank. He is a professor of economic study, who -since his early 40’s- developed micro-credit into an important instrument in the struggle against poverty. In 2006, Nobel Committee awarded Grameen Bank and its founder, Muhammad Yunus, the Nobel Peace Prize “for their efforts to create economic and social development from below.”

So today I turned 21, still a long way to go, my friend. Would you step together with me, with best effort. Then we shall create best moments, best experiences, and best future, together.