Mengapa Saya Memilih LPDP

BImageeasiswa LPDP memang unik sekaligus mengagumkan. Dengan budget 800M rupiah per tahun yang diambil dari hasil investasi dana abadi pendidikan (jumlahnya puluhan T), tidak kurang dari 2500 orang ditargetkan untuk dibiayai pendidikannya, baik master & doktor, dalam & luar negeri. Saya jadi teringat dengan program beasiswa jaman Bung Karno, yang berhasil melahirkan negarawan sekaliber pak Habibie. Lalu, mengapa saya memilih LPDP?

Pertama, mau sekolah apa saja dan dimana saja terserah, tinggal tunjuk. Nggak ada limit pilihan jurusan (dokter dan militer pun diterima), maupun besaran SPP (katanya, sudah ada yg SPP-nya 1M rupiah setahun). Hanya saja LPDP punya guideline: pilihlah kampus-kampus terbaik dunia di Amerika, Eropa, Jepang, Australia, dst. Bahkan kalau kita baru mendaftar S2 dan lulus dengan baik, dipersilakan langsung melanjutkan ke S3 tanpa seleksi lagi.

Kedua, proses pendaftaran dan seleksinya sangat jelas, mudah untuk diikuti. Satu-satunya syarat yang tergolong sulit hanya nilai TOEFL. Semua dokumen di-scan dan di-upload ke web LPDP, lalu tinggal menunggu pengumuman seleksi administrasi. Lanjut ke proses wawancara, LPDP berprinsip jemput bola. Wawancara dilakukan secara roadshow ke kota-kota besar dalam dan luar Jawa. Bagi yang tinggal di luar negeri pun disediakan opsi wawancara tatap muka via Skype. Hebatnya, dari mulai mendaftar hingga pengumuman hasil wawancara hanya memakan waktu 1-2 bulan. Terakhir, calon penerima beasiswa wajib mengikuti karantina pelatihan kepemimpinan kurang lebih selama 12 hari, sebelum disahkan menjadi penerima beasiswa LPDP.

Ketiga, selama masa studi, penerima beasiswa prinsipnya dijamin kedaulatannya secara finansial. Terutama ketika berada di luar negeri, LPDP nggak ridho kita hidup pas-pasan, atau harus “mengemis-ngemis” ke negara lain. Selain memberi uang bulanan, tersedia juga uang pindahan, uang buku (sampai $1000/thn), uang tunjangan istri & anak (masing-masing 25% dari uang bulanan), sampai uang riset dan perjalanan seminar.

Sayangnya, kata pepatah, tak ada gading yang tak retak. Niat baik para pengurus LPDP nggak sepenuhnya bisa terealisasi dalam waktu singkat. Terutama tentang poin ketiga, penerima beasiswa di angkatan tahun 2013 ini sementara harus puas dengan uang bulanan yang mengacu ke standar DIKTI, tentunya atas (baca: gara-gara) petunjuk dari Mendikbud. Angkanya? You know lah berapa, or you can googling lah berapa. Nggak jauh-jauh dari UMR masing-masing negara.

Namun janjinya, mulai tahun depan LPDP akan berusaha mengegolkan standar yang paling ideal. Tidak mudah, karena secara birokrasi, peraturan ini butuh diteken oleh 3 menteri: Mendikbud, Menag, dan tentu saja Menkeu. Moga-moga bisa terlaksana sebelum pemilu dan ganti menteri!

 

9 Responses to Mengapa Saya Memilih LPDP

  1. Vita says:

    wow, saya nemu blog ini terkait pencarian tentang jilbab, dan stumbled upon sebuah post di tahun 2007 (!), tahun yg sama sejak saya memulai pencarian itu :p
    sebetulnya penasaran… bagaimana anda melihat tulisan itu sekarang, setelah 6 tahun berlalu.. tp saya mlh tertarik mengomentari standar bulanan beasiswa Lpdp yg disamakan dg beasiswa Dikti.. itu betul, berdasarkan info yg sy terima, krn ada semacam ‘batasan jalur’ bhw tenaga dosen musti melamar beasiswa Dikti (tdk boleh lpdp) dan perbedaan standar tentunya membuat batasan jalur ini menjadi jomplang.. mudah2an segera ketemu win-win solutionnya😀

  2. aisar says:

    mbak vita, sejak tahun 2007 itu saya belum pernah mengkaji ulang lagi kesimpulan yang saya dapatkan tentang jilbab. sekarang pun kurang lebih sama.
    tentang beasiswa LPDP dan Dikti, terakhir kami dapat kabar ada sinyal positif dari Depdikbud untuk bisa menaikkan standarnya mulai tahun 2014 depan. belum ada kepastian memang, tapi at least ada gerakan ke arah sana🙂

  3. Fiza says:

    Halo mas, salam kenal
    Saya berkeinginan untuk ikut beasiswa lpdp. Kalo boleh, sya minta contoh essay yg pernah mas ajukan k lpdp. Ini email sya syarifah.hafizah.alattas@gmail.com

    Makasih mas

  4. Sri Suratmi says:

    ini info yg saya dapat per 10 juni 2014,

    saya tanya teman di OZ (penerima LPDP), katanya teman2 yg terima beasiswa Dikti memang punya banyak masalah misalnya stipen yg jadwalnya tidak jelas kapan sampainya padahal mereka hidup di negeri orang.
    —–
    Jumlah Stipend/bulan u/ LPDP emang diatas stipend dari Dikti…
    dan stipend LPDP selalu tepat waktu… sedang Dikti entah kapan…
    —-

    Jadi judulnya emang sesuai Fakta, LPDP emang jauh lebih unggul…
    Kalo milih Beasiswa LN dikti sebainya pikir dulu….

    Kecuali pake ADS , wah itu enak banget,,, pemerintah OZ emang lebih care dari pemerintah RI

  5. newharga says:

    info bagus nihhh

  6. tipztrix says:

    wahhh oke banget nihhh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: