Di balik Popok

Kabu, (not) only in Japan

Saya udah lama benci dengan permainan saham.
I just can’t stand with the fact that people throw billions into money-making machine,
while they can actually invest  and turn it into real business.

Agak kaget juga ketika mengetahui, teman-teman kantor pada demen main “kabu”(japanese: 株, arti: saham)
Entah buat orang Jepang udah biasa, lalu juga didukung layanan jual beli online yang  reliable,
they could spare half of their salary to bring in new stocks.

Kemarin ada senpai yang bercerita pengalaman pahit dan manisnya main kabu.
Pengalaman manisnya, punya saham di perusahaan alat-alat & kendaraan berat. Harganya makin melambung karena Jepang lagi kenceng-kencengnya membangun daerah yang terkena dampak Tsunami tempo hari.
Pengalaman pahitnya, big loss, no! HUGE LOSS of Olympus stock. Harganya terjun bebas, saat ini kurang dari 1/5 (seperlima) dari harga 2 bulan lalu. Still wondering why? check it http://goo.gl/CGBo7

Then I called it, a gamble. He refused..

Memori Masa Kuliah : Struggling for Life

Entah kenapa kepengen bikin semacam postingan berseri, tentang memori selama 4 taun kuliah di ITB. Ini yang pertama, semoga bermanfaat..

Aku termasuk mahasiswa yang beruntung mendapatkan beasiswa dari Putera Sampoerna Foundation. Selain ngga usah pusing mikirin SPP n’ biaya kuliah lain, PSF juga rutin mengirimkan living allowance setiap bulan. Besarnya lumayan, mulai dari 500 ribu di awal tingkat 1, dan naik bertahap hingga 700 ribu di tahun terakhir.

Awalnya, berbekal 500 ribu, aku mulai menetapkan anggaran bulanan yang ketat. Makan sehari ngga boleh lebih dari 10 ribu, jadi sebulan habis 300 ribu buat makan thok. Berarti cuman ada 200 ribu sisa untuk beli kebutuhan sehari-hari, jajan, pulsa hape, nonton, main, de el el. Gile, ngga logis banget yah, bayangin aja 10 ribu sehari, paling cuma bisa makan 2 kali @ 5.000 buat siang dan malem. Jadi paginya aku cuman makan mie atau roti. Bahkan aku inget banget, pernah hampir kehabisan duit di akhir-akhir bulan, sampai beberapa hari aku siang malem cuma makan nasi+tahu+sayur @ 2.500. Ya Allah, tapi tiap kali makan kayaknya terasa nikmat banget. Mungkin baru kali itu aku merasakan syukur yang mendalam bahwa selama aku hidup, ga pernah aku kekurangan makanan. Tidak sedikit orang-orang di luar sana yang sehari-hari terpaksa makan nasi basi, nasi aking, bahkan makanan untuk ternak demi menyambung hidup. Aku pun bertekad selalu menyisihkan 2.5% uang sakuku untuk berzakat dan menunaikan hak mereka. Read more of this post