Allah Ada Di Dekat Kita

Pernahkah kita bertanya, bagaimana kita dapat percaya bahwa Allah itu ada? Padahal mata kita tidak pernah melihat wujud-Nya, telinga kita tidak pernah mendengar perkataan-Nya, begitu juga hidung, tangan, bahkan seluruh indera-indera kita tidak pernah merasakan eksistensi-Nya. Namun dengan segala keterbatasan yang ada pada indera kita, ternyata kita masih bisa menghayati, apa yang kita percaya sebagai ciptaan-Nya, tanda-tanda kekuasaan-Nya.

Jauh sebelum manusia lahir, sesuatu yang luar biasa telah terjadi : pembentukan alam semesta. Teori pembentukan alam semesta yang saat ini banyak dianut oleh para ilmuwan ialah apa yang disebut dengan Big Bang. Berdasarkan teori ini, sebelum planet, bintang, satelit, dan benda-benda angkasa lainnya terbentuk, seluruh alam semesta ini berwujud seperti bola dengan diameter 3 juta mil, yang tersusun dari atom-atom dengan gaya tarik menarik sangat kuat, bahkan tidak dapat dibayangkan oleh akal. Pada suatu saat, ledakan yang sangat besar terjadi pada bola tersebut, menyebabkan atom-atomnya terpental ke segala arah. Atom-atom ini lah yang lambat laun membentuk planet, bintang, hingga tata surya, dan galaksi.
Alam raya ini dipercaya oleh para ilmuwan terus meluas. Bintang-bintang senantiasa bergerak menjauh, begitu juga dengan matahari pada sistem tata surya kita. Saat ini luas alam raya diperkirakan mencapai milyaran tahun cahaya. Padahal, satu tahun cahaya saja setara dengan 10 triliun km. Sungguh amat luas dan sulit dikalkulasikan kecuali menggunakan simbol matematika tak hingga.

Keajaiban alam raya ini juga diungkapkan oleh Stephen Hawking dalam bukunya A Brief History of Time. Menurut perkiraannya, apabila laju pengembangan alam semesta ini sejak terjadinya Big Bang terlambat satu per 10 pangkat 18 detik saja dari keadaannya sekarang, maka bintang-bintang, planet-planet, termasuk bumi tidak akan pernah terbentuk, seperti yang kita dapat saksikan sekarang. Seorang ahli matematika dari Inggris juga sempat mengemukakan bahwa probabilitas / peluang alam raya tercipta sampai keadaannya sekarang adalah 1 banding 10 pangkat 123, yakni satu per 10 dengan 123 buah nol di belakangnya, sebuah ketelitian yang mustahil untuk dibayangkan manusia.

Kita tidak perlu mencari tahu lagi, siapakah gerangan yang berperan dalam penciptaan alam semesta ini. Allah telah menunjukkan semua itu dalam untaian ayat-ayat-Nya. Pada Al-Anbiya [21]:30 Allah berfirman :

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya..”

Begitu juga dalam Adz-Dzaariyat [51]:47 :

“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar Maha Meluaskan”

Serta pada Az-Zumar [39]:5 :

“Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan”

Tidak dapat dibayangkan bagaimana Al-Qur’an yang diturunkan pada abad ke-7 Mahesi telah menyiratkan fenomena pembentukan alam raya sebagaimana ilmuwan-ilmuwan zaman sekarang baru dapat mempelajarinya. Hal itu tidak lain untuk menegaskan eksistensi Allah sebagai Sang Pencipta dari alam raya ini beserta seluruh isinya. Read more of this post