They ain’t better by nature

Hidup dan bekerja di negeri orang membuat gw “dipaksa” belajar banyak hal. Bahasa, budaya, kebiasaan, norma, aturan, hukum, prosedur, seperti gw me-restart lagi kehidupan gw, n’ belajar menanyakan pertanyaan tingkat SD semacam : “Ini cara makannya gimana ya? (sambil nunjuk ikan mentah dan wasabi)”, “Kalau ke Yokohama naik apa ya? (padahal di tiap stasiun ada peta-nya)”. Semua proses itu masih gw lewati, dan mungkin ga akan berhenti sampai gw bener-bener keluar dari negeri ini.
Gw kagum dengan Jepang, pendorong niat gw singgah di sini. (Masih) Menjadi salah satu kekuatan ekonomi di Dunia, dengan pangsa pasar terbesar untuk produk elektronik dan otomotif, Orang Jepang sebagai sebuah Bangsa juga diakui memiliki karakter, nilai-nilai dan idealisme yang kuat, etos dan kedisiplinan tinggi, kepatuhan terhadap aturan dan norma-norma, juga toleransi yang luas terhadap budaya luar.
We can’t say, semua keunggulan dan superioritas itu menutup mata kita, dari kelemahan kekurangan yang pasti ada. Seperti tidak bisa kita katakan, semua Orang Jepang tepat waktu, dan semua Orang Indonesia suka ngaret. Tapi satu pertanyaan yang selalu muter di otak gw :
How they built themselves

Gw yakin, ketika mereka dilahirkan, sama persis seperti kita, dan semua bayi di dunia ini. Seperti sabda Rasul : bagaikan kertas putih yang siap ditorehkan tinta oleh orang tua dan lingkungannya. Klo ada anggapan, “superioritas itu udah keturunan, bawaan gen DNA”, silakan menikah dengan Cristiano Ronaldo, dan lihat apa gocekan bola anaknya akan selihai Ronaldo, jika dibesarkan di bawah bendera Persib, Persija, atau Persik Kediri? Atau malah, menjadi pemain yang – seperti streotipe pemain-pemain Liga Indonesia – suka mendorong dan meneriaki wasit, sang pemimpin pertandingan.
Jika bukan karena genitas, lalu?
Sistem lah, yang membentuk tiap individu Jepang selama bertahun-tahun mereka tumbuh dan berkembang. Sistem, yang berinteraksi dengan mereka setiap harinya, membentuk pola pikir, watak, dan kepribadian mereka. Sistem, yang hanya dikendalikan oleh segelintir orang-orang terpilih, namun berdampak luas pada kultur hidup puluhan juta rakyat Jepang.
Satu contoh, Jepang punya Sistem Transportasi Umum yang paling sukses di dunia, berdasarkan riset UITP 2001. Walaupun memiliki mobil adalah hal yang lumrah, 70% pekerja dan pelajar di daerah Tokyo-Yokohama menggunakan kendaraan umum, utamanya Kereta Listrik (KRL), untuk pergi ke kantor setiap harinya. KRL Jepang memiliki  jadwal yang sangat padat. Pada peak-hour setiap harinya, jadwal kedatangan dan keberangkatan kereta adalah tiap 2-3 menit sekali. Tak heran, keterlambatan yang bisa ditoleransi hanya hitungan detik. Lewat dari 1 menit, dampaknya akan sangat sistemik (minjem istilah Century), minimal menyebabkan semua KRL berikutnya dari berbagai jalur terlambat.  Tidak hanya KRL, Bis Umum yang punya jadwal setiap 15-20 menit sekali pun,  jarang telat walau hanya semenit.
Tidak hanya Sistem Transportasi Umum, waktu pelayanan publik di Jepang juga sangat presisi masalah waktu. Mulai dari jam buka tutup, waktu pengurusan akta, KTP, sertifikat, segala sesuatu yang berhubungan dengan birokrasi, terdefinisi dan telaksana dengan disiplin. Tidak heran Jepang juga menduduki peringkat tinggi di dunia dalam hal kemudahan membuka bisnis dan investasi. Selama ini juga,  di kantor gw belum pernah denger orang bilang kata-kata “Ga boleh telat ya, ngumpul laporannya”, atau “Ga bole telat ya, ntar dateng rapatnya”. Mungkin itu memang kata-kata yang ga pernah mereka ucapkan selama hidup mereka.
Because late is not an option, why do we have to mention it.
Bisa dibayangin, sebuah masyarakat yang lahir dan dibentuk di dalam Sistem yang sangat disiplin dan menghargai waktu, dibandingkan masyarakat yang tumbuh di lingkungan yang sangat toleran terhadap waktu. Gw senyam senyum klo inget kasus Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh yang telat menemui Menteri Jepang, di kantornya sendiri! Bayangin aja, sama-sama naik mobil, sama-sama kena macet, eh bisa-bisanya kalah telak di “kandang”. Sudah saatnya kita berubah -kalau mau maju-, sekali lagi, kunci perubahan oleh Aa’ Gym :
Mulai dari diri sendiri, dari hal kecil, dan sekarang juga.
Segera cek jadwal hari ini, dan tepatilah!

9 Responses to They ain’t better by nature

  1. dhimasln says:

    Keren banget dah ni Aisar Sensei. mantab gan

  2. blogsabrina says:

    na ga suka nonton dorama,,
    yang na pengen ke jepang itu..emang karena na pengen liat mereka..manusia2 disana..ambil pelajaran di sana..
    ayo kak aisaar..semangaat..
    sering2 share ..wajibb!

  3. akhirnya di-post juga🙂

    yeah, late is not an option..somehow I still hard to get out of this bad habit =D

    btw, sejak kapan Aisar jadi alay, pake “gw” dengan “w” bukan “ue” gitu? =P dulu perasaan pake “aku”, hihi…

  4. Pingback: My Name is Djolie, I’m not a terrorist :P « Literatur DjoLie

  5. FRANSORI says:

    he,,he,, sering lupa jadwaL
    wkwk

  6. Anggie says:

    Ehm…., kira-kira Indonesia masih bisa dirubah kaya gini ga yah…? Dan berapa tahun lagi biar bisa ngeliat Indonesia jauh lebih disiplin…? Emang semuanya harus dimulai dari diri sendiri dan dimulai saat ini… Harus tetap optimis…! Like this… buat tulisannya…🙂

  7. ariefhidayat says:

    Tulisanya bagus euy.
    Sering2 cerita lah
    Gimana kondisi di jepang.

    Salam kenal bang aisar.
    Arief hidayat TM 07
    dulu pernah magang di divisi akpro waktu kadivnya bang aisar

  8. ichwan says:

    salam kenal y.. tulisan yg bagsu nih..

  9. harly says:

    bagus iut .. ini mengamarkan suatu kehidupan yang No end for studi.
    its good and better for our live..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: