Kebebasan Diri

Kisah inspiratif Rasulullah, tentang kebebasan menata prilaku diri dalam kehidupan sosial.

muhammadPada tahun kesembilan setelah kenabian Muhammad, yakni setelah kematian istri pertamanya, Khadijah dan pamannya, Abu Thalib, pada tahun 619, Nabi berkeyakinan bahwa ia tidak bisa lagi tinggal di Mekkah. Sama sekali tidak ada harapan keamanan atas kekejaman yang ia derita bersama pengikutnya di Mekkah. Sebelum segalanya menjadi begitu kritis, ia mengambil tindakan yang berani. Ia keluar menuju Taif, sebuah kota di sebelah utara Mekkah.

Di sana ia pergi menemui tiga kepala suku dan menjelaskan pesan yang dibawanya. Setelah semuanya menolak, ia mendekati orang-orang biasa, tapi tak seorangpun mendengarkannya. Ketia ia sadar bahwa segala yang ia upayakan sia-sia, ia memutuskan untuk meninggalkan kota tersebut.

Para kepala suku itu memerintahkan penduduk di kota tersebut untuk mencerca dan melemparinya. Diceritakan bahwa Nabi dihujani batu, seluruh tubuhnya berlumuran darah hingga sandalnya pun basah oleh darah. Ketika ia terbebas dari kerumunan manusia, doa berikut ini yang penuh dengan ratapan, aduan, harapan, dan penyerahan kepada Allah, keluar dari hatinya yang sedang menangis :

Wahai Tuhanku, aku adukan segala kelemahanku, kekuranganku, dan ketidakberdayaanku di hadapan manusia. Wahai Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Engkau adalah Tuhan kaum tertindas dan Engkau adalah Tuhanku. Kepada siapa lagi Engkau akan campakkan aku? Apakah kepada seseorang yang jauh yang melihatku dengan sinis, atau kepada musuhku yang Engkau berikan keunggulan atasku? Bila kemurkaan-Mu bukan disebabkan olehku, maka aku tidak khawatir, bahwa perlindungan-Mu melampaui segalanya. Aku berlindung dalam sinar kehadiran-Mu, yang menerangi segala kegelapan, sinar yang mengatur segala urusan kehidupan dan hari kemudian. Bila ternyata murka-Mu itu ditujukan bagiku, atau kemarahan-Mu diturunkan padaku, maka tidak ada daya upaya melainkan hanya Engkau (HR. Bukhari)

Hadis menceritakan bahwa surga meradang mendengar doa tersebut, malaikat Jibril menampakkan diri di hadapannya, memberi salam dan berkata : “wahai Rasulullah, hamba siap melayani anda. Bila anda mau, hamba bisa campakkan gunung ini untuk menutupi kota di kedua sisinya dan berbenturan satu sama lainnya, sehingga seluruh manusia di kota tersebut rusak binasa, atau anda menginginkan hukuman yang lain bagi mereka?”.

Diceritakan bahwa Rasulullah menjawab : “Meskipun orang-orang ini tidak menerima dakwah menuju jalan Allah, saya berharap bahwa di antara keturunan mereka ada sekelompok orang yang mau menyembah Allah dan menaati perintah-Nya”. Beberapa tahun kemudian, ketika Nabi ditanya saat apa yang paling menakutkan dalam hidupnya, ia menjawab yaitu ketika ia melihat para malaikat berterbangan di atas langit Taif, dan bersiap menghancurkan kota tersebut. Rasul menegaskan bahwa ancaman terhadap kehidupan orang-orang Taif yang telah menghina dan melukainya, sebenarnya juga ancaman terhadap dirinya sendiri.

Nabi menolak untuk membiarkan kelakuan penduduk Taif yang menentukan prilakunya. Nabi menolak menghancurkan penduduk Taif, sebagai reaksi atas kejahatan mereka kepadanya. Sebaliknya, ia memutuskan sendiri bentuk aksi atau reaksi yang ia berikan, sebagai cerminan dari pribadinya. Ia tidak mengatakan bahwa kejahatan mereka menimbulkan kepedihan pada dirinya, sebaliknya ia berpendapat itu merupakan tanggungjawab  pribadinya untuk memberikan reaksi.

Menerima kebebasan untuk menentukan pilihan sendiri, tidak hanya membebaskan, tapi juga menakutkan, karena meletakkan banyak kewajiban di pundak kita. Orang tidak bisa berkata : “Saya tidak mau beramah-ramah dengan dia, karena ia tidak pernah menunjukkan raut wajah senang terhadap saya”, atau “saya tidak akan meminjamkan uang saya kepadanya, karena dia tidak pernah mau meminjamkan uangnya kepada saya” . Namun orang harus mengatakan : “Ia melakukan tugasnya, dan saya melakukan tugas saya. Saya bertanggung jawab atas apa yang saya kerjakan, begitu juga dengannya. Saya tidak bisa menyalahkan sikap saya, begitu juga dengan sikapnya”

Almarhum Maulana Idris merupakan orang terhormat yang mengajar hadist di salah satu madrasah di Pakistan. Suatu hari, ketika ia keluar dari masjid, ia mendapatkan sandalnya hilang di tempat ia biasa meletakkannya. Lalu, kira-kira sebulan setelah itu, seorang muridnya melihat sandal yang hilang itu, ketika ia menemani Maulana Idris keluar dari mesjid. Dengan tergopoh-gopoh, ia mengambil sandal tersebut dan menawarkan pada Maulana Idris  untuk dibawa pulang. Yang ditawari menolak sambil tertawa, “Terus, kamu pikir bagaimana nanti orang miskin itu pulang ke rumahnya?”

*disadur dengan pengubahan seperlunya dari buku “On Being A Moslem”, Farid Esack

3 Responses to Kebebasan Diri

  1. Meri says:

    Nice story kk, awa ngelink ya😛 Klo bisa tambahin blogroll km sm Busby SEO Test di http://umpcinfo.com/gladioolers/ Makasi…

  2. earfun says:

    sepakat…
    terutama yang terakhir
    soalnya ga sedikit yang berbuat dan tidak memperhatikan dampaknya pada orang lain…

  3. gunsa says:

    Ass.wr.wb.
    Tulisan yang bagus, anda perlu perbanyak kisah kisah yang inspiratif dan memotifasi pembaca untuk mendapatkan ketauladanan. Dinegeri ini tidak ada akhlaq yang dapat dicopy, terutama para pemimpin yang berebut kursi DPR, mereka ramai ramai mau jadi caleg hanya tergiur dengan hak menerima gajih 40 juta, bukan memikirkan kewajiban dan tanggung jawabnya. Banyak kisah Akhlaq tauladan Rasullulah dan orang bijak yang belum tergali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: