Ubah Rating “Dewasa” Menjadi “Menikah” — Sebuah Solusi Alternatif Film (sejenis) ML

Bagiku, hal yang paling meresahkan atas tayangnya film ML (Mau Lagi) di bioskop adalah efeknya terhadap remaja-remaja “puber” yang menontonnya. Sebuah kenaifan menganggap film beradegan panas yang memompa adrenalin seperti itu sebagai “sex education”, malahan jauh lebih terlihat sebagai “sex campaign”. Apa jadinya bila kampanye seperti ini membekas, mengilhami, bahkan mendarah-daging di kalangan pemuda-pemudi kita? Aku rasa kita semua tau jawabannya. Ada juga pembahasan ilmiah yang bisa dibaca di blog ini.

Coba perhatikan fakta ini :

  • Film Iron Man yang sedang marak diputar di bioskop-bioskop, dilabeli “dewasa” oleh LSF.
  • Film ML (Mau Lagi) yang sebentar lagi menghebohkan bioskop-bioskop, juga mendapat label yang sama : “dewasa”

Namun kenyataannya :

  • Di Film Iron Man, yang aku saksikan langsung di bioskop, tidak ada secuil-pun adegan ciuman, apalagi percumbuan hingga hubungan seks
  • Di Film ML, yang trailernya telah beredar, beuh ciuman di sana-sini, adegan seks berlainan pasangan, dialog-dialog mesum, bahkan ciuman sama anjing??!!

Kalaulah LSF berkelit bahwa pemberian label “dewasa” sudah cukup menyaring calon penonton, mari kita lihat, siapa audiens dari film-film “dewasa” tersebut.

Hampir semua film yang berisi adegan kekerasan alias jotos-jotosan dilabeli “dewasa”. Ya, include Spiderman, Die Hard, Forbidden Kingdom, dst. Pihak bioskop memiliki SOP untuk menyaring calon penonton yang “tidak dewasa”, yakni : penonton yang memakai seragam sekolah, that’s it! Penonton yang tidak memakai seragam sekolah, termasuk anak-anak SMP, SMA, yang lagi malem mingguan sama pacarnya, tentu tidak dapat dilarang untuk membeli tiket dan menonton film “dewasa”.

“17 tahun” belumlah umur yang baik untuk disuguhi adegan yang mungkin baru halal dipraktekkan 5-10 tahun kemudian. Dorongan dan stimulus yang prematur tidak diragukan lagi menjadi penyebab maraknya hubungan di luar pernikahan, bahkan sampai ke tingkat yang paling najis : aborsi.

Aku tergelitik dengan tulisan di spanduk yang aku lihat tadi siang : seandainya Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Pattimura, Cut Nyak Dien tahu, moral bangsa ini akan menjadi sama bejatnya dengan bangsa penjajah, bangsa Barat, tentu mereka lebih memilih untuk tidak usah mengorbankan jiwa, raga mereka, dan ribuan prajurit mereka demi kemerdekaan Indonesia.

Oke-oke sudahlah, tidak usah terlalu didramatisir.

Taruhlah kita udah kehilangan akal untuk mengontrol pembuatan film-film Indonesia. Kita udah kehabisan energi untuk mengkampanyekan film sehat dan edukatif. Toh nyatanya orang-orang amoral masih saja berkeliaran dan menuangkan ide-ide gilanya ke dalam (apa yang mereka sebut) “karya seni”

Aku cuman pengen kasi saran, agar film-film “sekelas” ML dilabeli “MENIKAH” alias hanya boleh ditonton oleh orang yang sudah menikah. Kenapa begitu? Simpel! Dorongan dan stimulus dari film itu bisa disalurkan ke jalur yang benar, halal, barokah, berpahala. Tinggal minta bukti kartu nikah, beres. Apa susahnya sih, LSF, nambahin satu kategori rating lagi.

Hahaha.. pasti si produser tertawa terbahak-bahak kalau melihat artikel ini. Justru, anda memang mengincar orang yang belum menikah, yang penasaran, yang masih mencari jati diri, itulah yang membuat anda BR*NGS*K.

Ah maaf, emosi. Seandainya Rasulullah masih hidup, tentu Beliau akan mendoakan anda : Semoga Allah memberikan hidayah-Nya kepada anda-anda semua. Kami percaya, anda punya potensi yang besar untuk membentuk moral bangsa ini, lewat karya-karya seni anda. constructive or destructive, your choice..

16 Responses to Ubah Rating “Dewasa” Menjadi “Menikah” — Sebuah Solusi Alternatif Film (sejenis) ML

  1. Fajar says:

    ah curi2 ide postingan gw lu sar
    kampret😆

  2. ami says:

    wah bagus tuh sar,,pas beli nunjukkin ktp aj gt ya,kan ada status juga di ktp jadi ktauan..

  3. restya says:

    walah… ikut2an nulis juga akhirnya😀

    ya, bolehlah pemberian label ‘Menikah’ menajdi salah satu alternatif solusi

    tapi… salah satu efek dari menonton film2 begituan kan : dapat menimbulkan imajinasi

    well, faktanya film2 begituan malah dapat menimbulkan KDRT…serem kk

  4. Angga says:

    Yoi, sing penting tertib ojo jotos2an yo mas…!! :p

    Yang lebih penting lagi…!! Mengapa penolakan terhadap film ini harus dengan aksi..??
    Petikan sms dari seseorang:
    “(K*-I*B) Ga setuju pilem ML diputer..? bla bla bla, minimal dtg HARI INI j.11 d grbg ganesa. Solidaritas unt moral bangsa!”

    Emang sikap ketidaksetujuan mahasiswa sekarang itu hanya dengan aksi ato demo ya? ndak bisa yang lebih positif yang ndak usah tereak2 ndak jelas, turun ke jalan, bikin macet, lebih parah lagi bikin ribut. itu sih sama BR**NG**K-nya dengan yang buat ni filem, karena juga mengganggu kententraman dan kenyamanan orang lain

    Sory menyinggung rada jauh…
    sekali lagi sing penting tertib wae ojo jotos2an… ^_^

  5. yumcatz says:

    pantesan kalo orang yang opor makin lama makin opor, ya😆

  6. zakiaf says:

    ……………Aku cuman pengen kasi saran, agar film-film “sekelas” ML dilabeli “MENIKAH” alias hanya boleh ditonton oleh orang yang sudah menikah………

    Setuju nih…

    “Orang- orang lantang menolak poligami. sementara free sex n aborsi terus terjadi,,, lalu apa definisi perlindungan dan tanggung jawab apakah persamaan hak dan derajat seperti ini yang dinanti”

    Untuk Indonesia yang lebih baik dan bermartabat

  7. Ahmad Ridwan says:

    Numpang berpendapat…
    Menurut saya solusinya sangat sederhana, ga usah ada film dan sinetron lagi aja di muka bumi ini, kayak jaman Rasulullah.
    Bukan berarti saya tidak pernah menonton film… banyak juga film yang kasih pesan positif, tapi kebanyakan kan cuma sandiwara. Kalaupun masih mau ada film, mending yang diizinkan itu hanya tipe dokumenter saja, kasih pendidikan sains dan teknologi biar bangsa ini cepet bangkit.
    He..he.. cuma teori.😛

  8. hamka says:

    ikutan nimbrung sar…

    wah label “17+” , “dewasa” ato diganti “menikah” itu kan salah satu bentuk dari peng”halal”an. Takutnya kalo dah lebih jauh, itu produser film2 ginian di masa datang ga peduli konten film (kan udah gue cap “menikah”).
    Kalo menurutku, ya segera sahkan saja UU pornoaksi itu….
    Secara agama (agama manapun), film itu jelas2 haram ato paling ngga’ jelas2 menyalahi norma2 di kitab suci
    Secara moral, tanyakan sendiri ke nurani masing-masing…
    Secara adat, ada nggak suku di Indo yang budayanya nge-sex? bebas lagi..
    Secara hukum, wah belum ada hukumnya….
    Kesimpulan : Secara hukum, film ini bole maen, negara kita kan negara hukum ….😀

  9. scooterboyz says:

    Ahhh…

    Ndak ussah bingung..KAlopun jadi keluar ya ga usah ditonton,gitu aja kok repot..

  10. aisar says:

    @ fajar -> telat lw

    @ ami -> wah bener juga. praktis! pake KTP

    @ restya -> hayo ntar makanya klo udah nikah, dijagain suaminya biar ga liat yang begituan selain di “rumah” hehe

    @ angga -> kemaren tu aksi minta tandatangan doang, biar pede kita banyak yg ngedukung :p

    @ yumcatz -> makae tobat ndre..

    @ zakiaf -> hehe klo poligami sih ntar mbahas film AAC zak🙂

    @ madrid -> ga ada film/sinetron? ntar ga bisa denger kata-katanya chinca laura lagi deh :p
    tapi baguslah, solusi yang extreme kanan ini mah

    @ hamka -> iya sih paling enak emang ada pijakan hukum yang jelas. minimal : adegan ciuman + berhubungan sex dilarang. udah, simpel, LSF tinggal ngecut2 aja tuh scene2 yang melanggar

    @ scooterboyz -> setuju sebagai tindakan pribadi. tapi kita kan juga harus memikirkan kemaslahatan orang banyak bom (caile)

  11. dani jaka says:

    halo aisar.

    Sebenarnya ide yang mendasari dibuatnya Film ML adalah kita ingin sekali membuka mata masyarakat bahwa kehidupan sex bebas itu sudah mewabah dan perkembangannya semakin mengkhawatirkan.
    Kalo bicara tentang moral generasi muda, tanpa film ML pun kondisi generasi muda kita sudah cukup terkontaminasi.

    lewat film ML kita ingin mengetengahkan bagaimana kehidupan sex yang sudah berjalan di masyarakat, kita juga mengetengahkan akibat-akibat negatif dari pergaulan bebas

    informasi-informasi tersebut kita berikan dengan harapan generasi muda kita bisa menentukan mana yang baik dan mana yang buruk.menurut kita cara seperti ini akan lebih efektif buat generasi muda kita yang cukup kritis.

    kesalahan kita adalah kebocoran trailer yang belum final di internet.
    Sebagian masyarakat sudah antipati terhadap film ML karena potongan adegan di trailer.
    pada kenyataannya adegan di trailer tersebut hanya sepersekian bagian dari sebuah cerita.

    berita terakhir film Ml memang tidak jadi tayang.
    sampai kapan masyarakat Indonesia menutup matanya dengan gejala sosial yang bisa menghancurkan generasi muda kita?

  12. Wih, ada orang pro-ML yang angkat bicara tuch! Peraaaaang…hehe. Nggak gitu juga mas Dani Jaka, ngasih tahuin fenomena yang terjadi di masyarakat nggak perlu sampai nampilin adegan-adegan vulgarnya kalee’…bosan saya dari dulu dengar alasan semacam “ngasih gambaran kepada masyarakat tentang bla..bla..bla”. Apa nggak ada cara yang lebih bergengsi daripada sekedar bikin film b*kep gitu? Plis deh…

    BTW, kalopun ada label “menikah” untuk kategori film, bukannya orang-orang yang udah nikah juga nggak boleh ya lihat film ‘begituan’? karena kan tetep aja ngeliat aurat orang lain yang nggak seharusnya dilihat…Hehe

  13. aisar says:

    @ dani jaka -> udah kejawab ma asistenku tuh :p

    @ egadioniputri -> iya, itu mah janjian aja ma suaminya hehe..

  14. boim lebon says:

    sepertinya lembaga sensor lagi sakit mata nih…ga bisa bedain mana yg layak dengan yang tidak

    salam kenal

  15. Randy says:

    hahaha…
    justru kalo labelnya “menikah”, sebagian besar istri udah ngelarang.. hehehee

    peace😉

  16. Badut says:

    Biarpun film ML ngga ada,tetep aja film bokep lainnya masih beredar dimana-mana.tambah ancur aja generasi muda indonesia.kalo mamperbaiki moral generasi muda indonesia,basmi dulu biangnya( dedengkotnya ,baru basmi sisa-sisanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: