Rambu-Rambu Ga Penting Di Jalan Tol

Aku lagi di Jalan Tol Cipularang saat menulis ini. Dari dulu aku penasaran banget sama rambu-rambu di jalan tol, yang bagiku (dan mungkin bagi pengendara mobil lainnya juga), kebanyakan yang ga penting alias ga guna. Coba kita lihat satu persatu.

“Dilarang Mendahului Dari Sebelah Kiri”
Kenyataannya, jalan tol kan ada beberapa lajur. Wajar aja, misalkan pas kita ada di lajur tengah, terus mobil yang di lajur kanan lebih lambat, otomatis kita “mendahului dari sebelah kiri” mobil itu. Ga akan membahayakan siapa-siapa kok, toh mobil biasanya jalannya lurus, ga zig-zag, ato sering pindah-pindah jalur gitu.

“Maksimum Kecepatan : 100 km/jam, Minimum Kecepatan : 60 km/jam”
Rambu-rambu ini buatku ga make sense banget. Apa berarti mobil tua yang larinya 50 km/jam ga boleh masuk jalan tol? Bukannya otomatis, klo ada yang jalannya lambat, pasti disalip ma mobil yang lebih cepet. Masa ditabrak dari belakang. Udah gitu, kecepatan maksimum ya sebenernya tergantung traffic-nya juga. Klo emang kosong abis, lari 150 km/jam juga fine-fine ajah, toh ga bakal ada orang (pejalan kaki) yang nyebrang kan, di jalan tol. Klo mo nentuin batas atas, boleh lah, tapi 100 km/jam tu udah biasa banget di jalan tol. Paling ga maksimum 200 lah, ato 180 km/jam.

“Dilarang Melewati Bahu Jalan”
Secara bahu jalannya luas, dan muat dilewatin bis. Emang sih, bahu jalan buat klo ada mobil yang bermasalah, ato mungkin sopirnya pengen pipis dulu. Tapi, kenyataannya, jarang banget ada kasus begitu. Aku hitung-hitung, lebih dari 120 km jalan tol Jakarta-Bandung, paling ada 3-4 mobil yang terlihat nongkrong di bahu jalan. Ya sudah, kenapa tidak dimanfaatkan untuk nyalip🙂

Tapi dari semua paparan di atas, yang paling lucu : hampir ga pernah ada mobil distop sama polisi jalan tol, gara-gara mendahului dari sebelah kiri, atopun melaju dengan kecepatan 150 km/jam. Klo yang nyalip dari bahu jalan, ada-lah beberapa yang kena. Jadi, kayak udah kebiasaan aja, peraturan dibuat untuk dilanggar, n’ yang lebih parah lagi, penegak peraturan juga ga ngannggep itu sebuah pelanggaran. So, ga make sense banget kan rambu-rambu itu.

10 Responses to Rambu-Rambu Ga Penting Di Jalan Tol

  1. scooterboyz says:

    Di Indonesia,masyarakat belum terbiasa menghargai peraturan..Jadi kayanya nonsense banget aturan gitu,padahal kalo kita pikir,peraturan itu sangatlah penting..

    Apa kata dunia????

  2. aisar says:

    Peraturan yg buat kan manusia juga.. jadi wajar klo kita kritik..

  3. yumcatz says:

    tahu kalo di tol tuh jarang berhenti kan?
    sampai sekarang dah 5 tahun kalo balik mudik saya pasti berhentinya di jalan tol (dan bukan cuman saya yang kayak gini).
    .
    soalnya rumah pas di samping tol pisan😀.
    kalo keluarnya lewat leuwipanjang pasti bisa lihat rumah saya.
    pas di belokan mau ke arah leuwipanjangnya pisan.

  4. ariandy says:

    setuju sama bung scooterboys.. peraturan ginian kan dibikin kaga asal2an.. jadi apa salahnya sih ditaati?

    “Maksimum Kecepatan : 100 km/jam, Minimum Kecepatan : 60 km/jam”
    >> di luar negri, setahu saya memang ada pembatasan kendaraan yang boleh masuk ke jalan tol. mobil2 lambat atau yang Power to Weight Ratio nya kecil tidak diperbolehkan untuk masuk ke jalan tol, truk2 besar yang gak bisa jalan kenceng juga termasuk. tapiii, di beberapa negara seperti jerman (kalo gaksalah) tidak ada pembatasan kecepatan, dan sepeda motor cc besar bisa masuk. konsepnya kan jalan bebas hambatan..

    “Dilarang Melewati Bahu Jalan”
    >> kalo bener ada orang yang kebelet pipis di tengah jalan tol, trus ditubruk bis, gimana hayo? bahu jalan kan fungsinya untuk keadaan darurat, misal: ban pecah, mobil mogok, kebelet ee’, dll.

    TAAT ATURAN, APA SIH SUSAHNYA?

  5. reiSHA says:

    Ya jangan liat sisi negatif kalo peraturan itu ga guna. Pasti ada maksud n tujuannya lah… Mungkin masalah di redaksinya aja…

    Sama kaya “Area Bebas Rokok”. Itu artinga di area itu ga boleh ada yang merokok sama sekali atau siapapun boleh merokok, kan bebas… (ga nyambung ya?)

  6. aisar says:

    @ ariandy -> aturan itu punya dua dimensi : orang yang wajib melaksanakannya (dalam hal ini kita), dan orang yang wajib menegakkannya (dalam hal ini polisi lalulintas). Nah, klo polisinya aja ga menegakkan aturan tsb (baca di atas), berarti aturannya pincang dong..

    @ reisha -> nyambung sama komen ke ariandy di atas. hematku, aturan tsb pincang gara2 ga dirumuskan dengan matang. istilahnya, mungkin hanya sebagai formalitas belaka, padahal aq yakin juga tujuannya pasti baik, menghindari kecelakaan lalu lintas.

  7. iang says:

    dua dimensi? kalo yg satu (penegak aturan) lalai, bukan berarti pihak yang lain juga boleh lalai loh..

  8. aisar says:

    klo kenyataannya dua2nya lalai..🙂

  9. itx says:

    “Dilarang Mendahului Dari Sebelah Kiri”
    soalnya lajur paling kanan sebenernya gak boleh untuk lewat biasa. lajur itu khusus untuk mendahului. bukan haknya orang yg mau berlambat-lambat.

    “Maksimum Kecepatan : 100 km/jam, Minimum Kecepatan : 60 km/jam”
    memang seharusnya begitu. mobil lambat gak boleh masuk tol.

    “Dilarang Melewati Bahu Jalan”
    Bukan haknya untuk memakai bahu jalan, itu adalah haknya yang harus berhenti.

    cobalah menghargai hak orang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: