Pengalaman Beli Kamera Digital (Worthed ga sih)

Beberapa waktu yang lalu aku mengakuisisi (membeli) sebuah kamera digital, Canon Powershot seri A430. Cuma 4 megapixel, memori bawaan 16 MB, 4 optical zoom, pake batre ukuran AA. Harga kameranya aku beli 1 juta pas, di BEC. Karena memorinya kurang gede + blom ada batre charger + mesti beli case pelindung, akhirnya total-totalnya abis 1 juta + 75 ribu + 120 ribu + 40 ribu = 1.235 juta.

kamdigSebelum beli aku sempet ragu-ragu, worthed ga ya aku beli kamera digital mpe sejuta lebih (maklum mahasiswa). Pertama, banyak kamera yang 4-5 megapixel dengan harga miring 500-700 ribuan (contoh : mpix, spectra). Kedua, emang ga cukup pake kamera HP, toh paling cuman buat diliat di komputer aja, n’ motret-nya jarang-jarang. Ketiga, pas beli aksesoris (kayak memori tambahan, charger, n’ camera case) aku sensitif banget sama harga, terutama pas beli batre + chargernya. Kata penjualnya yang bagus mah yang di atas 100 ribu.

Akhirnya aku berpikir, beli kamera untuk investasi jangka panjang juga. Mungkin sekarang pas mahasiswa blom terlalu sering dipake. Tapi ntar klo wisuda, trus nikah, punya anak, wah pasti dong banyak momen-momen yang pengen diabadikan. Untuk itu, aku ga mo beli kamera yang asal bisa jepret. Kualitas gambarnya mesti bener-bener diperhatiin, terutama kan banyak kamera murah yang gagal klo motret malem-malem (atau sedikit cahaya).

Aku sempat kepikiran buat beli HP baru yang kameranya udah 2 megapixel ke atas. Sepertinya udah cukup banget buat foto-foto. Hmm, tapi ternyata kualitas hasil jepretannya ga sebanding sama harganya🙂 Masih lebih bagus kamera digital yang 500 ribuan hehe. Ya wajarlah, kamera yang nempel di HP ngelawan kamera yang bener-bener kamera. Akhirnya aku memilih untuk tidak mengikuti falsafah orang Indonesia (pengen semuanya serba ada di dalam satu wujud).

Nah, penting nih. Gimana caranya milih kamera yang bener-bener sebanding kualitasnya dengan harganya. Pertama, aku nentuin batesan budgetku : 1 juta-an (makin tinggi budget, umumnya makin berkualitas dapetnya🙂. Terus, aku cari info sebanyak-banyaknya tentang kamera yang rentang harganya segitu. Biasanya orang langsung tertarik sama megapixel yang ditawarkan. Hmm, secara teori emang makin banyak megapixel, makin “halus” dan “detil” kamera itu menangkap objek. Tapi in fact, banyak faktor lain yang mempengaruhi kualitas hasil pencitraan gambar oleh kamera.

Klo ga mau ambil pusing, cari aja review kamera yang ada di majalah ato internet. Jadi, kameranya udah bener-bener dicoba sama seorang ahlinya. Biasanya, ada kamera yang bagus saat memfoto portrait (kasarnya muka orang), tapi pas memfoto pemandangan / landscape agak kabur. Ada yang boros batre, ada yang flash-nya kurang menggigit, ada yang red-eye reduction-nya payah, macem-macem lah, aku juga bukan ahlinya yang gitu-gitu. Ada situs internet yang aku recommend banget buat ngliat review kamera digital : http://www.steves-digicams.com.

Nah, kenapa aku milih Canon A430. Nih, kata mas Steve (emang nama orang ya itu🙂

Like its predecessor, the A430’s ergonomics are great. The various controls are well
placed and easily accessed by your fingertips. It still has the same Zoom control that we
disliked on past models, but it works just fine. The Menu system is logically organized
and changing settings quickly is very easy with the FUNCtion menu.

Shooting performance was impressive. From power up to first image captured
measured approx. 1.5 seconds. Shutter lag measured less than 1/10 of a second when
pre-focused and only 2/10 of a second including autofocus. When shooting in single drive mode, the shot to shot delay averaged 1.5 seconds without the use of the flash
and about 5 – 7 seconds including the flash. The LCD blacked out while the flash was
recharging, which was very aggravating when trying to frame for the next shot; luckily
there is an optical viewfinder on this model. Using the camera’s continuous or burst
mode allowed me to capture 10 frames in only 3.5 seconds!

The overall image quality is excellent for such an affordably priced camera. In fact it
sometimes rivals that of more expensive cameras with similar resolution. You can
choose from several image sizes (Large: 2272 x 1704, Middle 1: 1600 x 1200, Middle 2:
1024 x 768, Small: 640 x 480, Wide: 2272 x 1280, and Postcard Date Imprint Mode:
1600 x 1200.) And, the quality is also selectable between Normal, Fine and SuperFine.
The better the quality the less compression of the image. More compression may equal
a smaller file size, but you will see a difference in you images. We’ve found that the
most popular settings are either the default Large Fine mode or Large SuperFine, which
is what we used. Either of these modes will produce awesome pictures and beautiful
prints.

Outdoors, I found it captured nice images with pleasing color saturation. The 4x optical
zoom lens offers better flexibility in composing your shots than your typical 3x zoom. It
covers a 35mm equivalent range of approx. 39 -156mm. While its wide angle extreme
isn’t quite as wide as some of the competitors, it will still produce pleasing landscapes
and group shots, while the telephoto end will definitely help bring subjects closer. With
some help from the AF system, the lens produced tach sharp images with very little
edge blurring. I found the lens exhibits moderate barrel distortion at full wide angle as
well as small traces of chromatic aberrations (purple fringing) around brightly lit
subjects. The A430’s 9-point AFiF autofocus system was not only accurate, but very
fast. And thanks to the AF-assist lamp, you can focus on subjects in total darkness.

Udah cukup lah dipuji-puji kameraku🙂 Tapi ternyata emang bener lho, setelah aku coba-coba (mentang-mentang punya sendiri). Buat yang punya budget sejutaan, sayang sekali kamera Canon A430 udah ga diproduksi lagi kayaknya, coz semakin jarang terlihat, n’ udah digantiin sama A460. Tapi kata mas Steve, A460 sedikit lebih rendah kualitas gambarnya dibanding A430 (padahal 5 megapixel lho).

Oh ya sedikit tambahan. Khusus untuk kamera yang pake batre chargeran, harga batre + charger memang ada yang murah (mulai 30 ribu). But, setelah aku tanya yang udah sering make kamera digital, charger-charger begituan ga bisaan mendeteksi klo batre udah penuh. Jadi, selama tercolok ke listrik ya terus aja batre-nya dicharge yang bisa menyebabkan overcharging, umur batre berkurang. Mending keluarin duit lebih, buat cari charger yang ada fasilitas mati otomatis saat batre udah penuh, itung-itung investasi🙂 Yang aku beli merk Sanyo, harganya 120 ribu, udah dapet charger + 2 batre.

4 Responses to Pengalaman Beli Kamera Digital (Worthed ga sih)

  1. restya says:

    Pengalaman Pakai Kamera Digital (Worthed ga sih)
    Ngliat foto2ny c nggak tlalu worthed…:D
    Matur suwun krn tlah mngizinkanQ berlatih :p

  2. Salam kenal,

    Saya juga pakai Canon A430, tapi sekarang timbul garis2 horisontal putih, sepertinya shutternya tidak bekerja sempurna.
    Tapi kalau untuk ambil video masih OK.

  3. zatazblog says:

    pengalaman bagus!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: