Jabat Tangan Lawan Jenis, Bole Ga Si?

[ada sepenggal cerita]

Dan..yang paling gawat, Mas Gagah emoh salaman sama perempuan! Kupikir apa
sih maunya Mas Gagah?”

“Sok kece banget sih Mas? Masak nggak mau jabatan tangan sama Tresye? Dia
tuh cewek paling beken di sanggar Gita tahu?” tegurku suatu hari. “Jangan
gitu dong. Sama aja nggak menghargai orang!”

“Justru karena Mas menghargai dia, makanya Mas begitu,” dalihnya, lagi-lagi
dengan nada yang amat sabar. “Gita lihat kan gaya orang Sunda salaman?
Santun tetapi nggak sentuhan. Itu yang lebih benar!”

Huh, nggak mau salaman. Ngomong nunduk melulu?, sekarang bawa-bawa orang
Sunda. Apa hubungannya?”

Mas Gagah membuka sebuah buku dan menyorongkannya kepadaku.”Baca!”

Kubaca keras-keras. “Dari Aisyah ra. Demi Allah, demi Allah, demi Allah,
Rasulullah Saw tidak pernah berjabatan tangan dengan wanita kecuali dengan
mahromnya. Hadits Bukhori Muslim.”

[cerita selesasi]

Penjelasan :

Hadist yang dimaksud :
“Aisyah berkata, “Maka barangsiapa diantara wanita-wanita beriman itu yang menerima syarat tersebut (syarat untuk dibai’at), Rasulullah saw. berkata kepadanya, “Aku telah membai’atmu – dengan perkataan saja – dan demi Allah tangan beliau sama sekali tidak menyentuh tangan wanita dalam bai’at itu; beliau tidak membai’at mereka melainkan dengan mengucapkan, ‘Aku telah membai’atmu tentang hal itu.'” HR Bukhari

Dari hadist ini beberapa ulama mengambil kesimpulan : “Sewaktu Bai’at -yang merupakan prosesi penting- Nabi tidak menyalami wanita, jadi berjabat tangan antara lawan jenis hukumnya haram”

Perlu diketahui ada hadist lain tentang proses bai’at ini yang diriwayatkan oleh Ummu Athiyah :
“Lalu Rasulullah saw. mengulurkan tangannya dari luar rumah dan kami mengulurkan tangan kami dari dalam rumah, kemudian beliau berucap, ‘Ya Allah, saksikanlah.'” HR. Bukhari

Nah, proses Bai’at sendiri dilakukan berulang-ulang oleh Nabi sehingga memungkinkan terdapat periwayatan yang berbeda seperti terlihat pada dua hadist di atas. Seandainya kita mengambil hadist Aisyah sebagai dalil pengharaman berjabat tangan, ini juga tidak terlalu tepat mengingat :
a. Kaidah bahwa sesuatu yang tidak dilakukan oleh Rasul, tidak lantas berarti haram. Bisa mubah, atau makruh, bisa jadi memang karena Rasul tidak prefer melakukannya, kecuali memang ada kata-kata yang tegas dari Rasul untuk mengharamkannya. Contoh : Rasul tidak memakan daging biawak, tetapi para ulama sepakat hukumnya mubah.
b. Konteks hadist tersebut, Aisyah sedang membicarakan Bai’at wanita mukminah yang berhijrah setelah perjanjian Hudaibiyah, bukan Bai’at secara umum, terlebih berjabat tangan secara umum. Oleh karena itu Imam Bukhari memasukkan hadist ini ke bab “Idzaa Jaa aka al-Mu’minaat Muhaajiraat”

Selain hadist Aisyah di atas, beberapa ulama mengambil riwayat Thabrani dan Baihaqi dari Ma’qil bin Yasar dari Nabi saw., beliau
bersabda:
“Sesungguhnya ditusuknya kepala salah seorang diantara kamu dengan jarum besi itu lebih baik daripada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya.”

Beberapa kelemahan penetapan hukum dari hadist ini menurut Syekh Yusuf Qardhawi:
1. Perawinya tidak sepenuhnya jelas, karena itu tidak ada imam masyhur yang meriwayatkannya
2. Kata-kata “Menyentuh wanita yang tidak halal” dalam hal ini memakai verb “massa – yamassu – mass: menyentuh” bisa berarti hubungan intim seperti dalam Al-Qur’an QS. Ali-Imran 47 : “..bagaimana mungkin aku mempunyai anak padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun..” dan QS. Al-Baqoroh 237 : “Jika kamu menceraikan istri-istrimu sebelum kamu menyentuh mereka..”

Jadi akan terasa lebih tepat mengkategorikan berjabat tangan atau bersentuhan dengan lawan jenis sebagai “mubah”. Namun kondisi mubah dapat berubah menjadi makruh bahkan haram jika jabat tangan/bersentuhan ini bertujuan untuk “taladzdzudz” atau “berlezat-lezat”, memuaskan syahwat. Namun sekali lagi, tidak ada salahnya apabila ada ustadz yang menganjurkan tidak berjabat tangan demi kehati-hatian dalam interaksi antara lawan jenis, asal bukan mengharamkan lho..🙂

— Lihat juga penjelasan Syekh Yusuf Qardhawi -> http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Kontemporer/Jabat1.html

2 Responses to Jabat Tangan Lawan Jenis, Bole Ga Si?

  1. 111 says:

    jadi kamu sendiri mau menjabat tagan wanita?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: