Mengerti

Hari ini aku belajar, tentang salah satu hal tersulit dalam menjalin hubungan : berusaha mengerti, sebelum dimengerti

Laki-laki punya kecenderungan untuk memaksakan kehendak. Laki-laki merasa hebat jika perempuan takluk, tunduk, dan menuruti keinginannya. Laki-laki merasa berwibawa jika semua yang dikatakannya, semua yang diperintahkannya, mendapati prioritas lebih tinggi dari apa yang perempuan utarakan, apa yang  perempuan pertimbangkan.

Laki-laki menganggap ia telah memberikan semua yang terbaik untuk perempuan, dan sebagai balasannya, perempuan harus memberikan yang terbaik untuknya. Perempuan harus mengamini kata-kata dan argumennya, bagaikan firman yang turun dari langit tanpa boleh diperdebatkan. Perempuan harus selalu bisa meluangkan waktu untuknya, karena apa lagi yang lebih penting di muka bumi ini ketimbang bersamanya.

Pemikiran tersebut tanpa disadari mendorong laki-laki sulit, bahkan tidak mau, mengerti perempuan. Boro-boro memahami pemikirannya. Tertarik mendengarkan pendapatnya pun tidak, ketika perempuan menunjukkan tanda-tanda yang berseberangan dengan keinginan laki-laki.

Berusaha mengerti memang sulit, sesulit menerima kekalahan. Kita belum sukses mengerti kemauannya, jika kita masih merasa menang dalam suatu perdebatan atau pertengkaran kecil. Mengerti adalah menginjak-injak keangkuhan diri kita, mengubur hidup-hidup emosi dan egoisme kita, bahkan melepaskan sejenak jubah harga diri kita. Walaupun ternyata mengerti itu semudah mengucapkan : “oke, kali ini memang kamu yang benar”

Mengerti adalah satu-satunya jalan untuk lebih dimengerti. Seperti menabung di bank, semakin banyak yang kita simpan, semakin banyak pula yang dapat kita ambil. Semakin banyak kita berusaha mengerti, semakin banyak pula kita akan lebih dimengerti olehnya.

Idul Adha

Idul Adha memang ga serame Idul Fitri. Ga banyak orang ngirim SMS “Met Idul Adha” ketimbang “Met Idul Fitri”. Bahkan lucunya ada seorang kawan yang mengirim SMS ucapan : “Met Idul Adha ya. Mohon maaf lahir batin (???)”. Wah, seolah-olah Idul Adha ga punya “tag” sendiri, jadi mesti minjem tag-nya Idul Fitri, walopun jadinya jayuz abis.

Tadi pagi aku shalat ied di Lapangan CC ITB. Khatib-nya adalah Pak Carmadi Machbub, Wakil Rektor Senior Bidang  Sumberdaya. Walaupun kontennya cukup berbobot, namun jujur aja, penyampaiannya rada garing (maaf ya pak, klo baca ini). Sebabnya, sebelum shalat, para jamaah dibagikan sebuah buku kecil berisi materi khotbah yang nantinya dikumandangkan. Hmm, ternyata apa yang diutarakan oleh khatib sama persis dengan isi buku, hingga ke titik komanya. Pikirku sih, mending baca di rumah aja bukunya.

Acara khas hari Idul Adha pun tidak jauh berbeda dari tahun ke tahun : memotong hewan qurban. Sewaktu kecil dulu, aku sering diajak oleh Ayah ikut menyaksikan prosesi pemotongan (apa penyembelihan ya) hewan qurban, walaupun sebenrnya aku rada ilfil melihat darah mengalir. Sekarang pun ke-ilfil-an itu belum berubah, sehingga aku memutuskan untuk pulang saja setelah selesai shalat ied.

Makna Idul Adha Buatku

“Pengorbanan ada, karena cinta. Betapa Ibrahim mencintai anak semata wayang yang telah dinantinya puluhan tahun. Namun dengan ikhlas Ia korbankan anaknya, demi cintanya kepada Yang Maha Pencinta. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita mencintaiNya, melebihi cinta kita pada harta, pada keluarga, bahkan pada diri kita sendiri? Apa yang dapat kita korbankan untukNya? Bukankah kita terlalu pelit mengeluarkan beberapa ratus ribu untuk seekor hewan qurban, walau janji akan berkah dan ampunanNya bertaburan dimana-mana? Bukankah kaki ini terlalu berat untuk berdiri dengan khusyuk menghadapNya, walau hanya beberapa menit tiap harinya? Dia, Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, kepada seluruh hamba-hamba-Nya. Akankah kau biarkan cintaNya padamu bertepuk sebelah tangan..?”

Inilah hasil dari renunganku tentang makna Idul Adha kali ini :)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.