Archive for the ‘Oprekanku’ Category
Rekam Siaran TV Dengan Ubuntu
Artikel ini merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya : Nonton TV dengan Gadmei dan Ubuntu. Panduan merekam siaran TV ini tidak dikhususkan untuk device TV Tuner tertentu, tapi aku baru mencobanya dengan Gadmei UTV330+. Tidak hanya merekam secara konvensional, di akhir artikel aku juga membahas teknik merekam secara terjadwal dan otomatis.
Selamat Mencoba
Install Program
Kita akan menggunakan VLC (Video LAN Converter)
aptitude install vlc
Install semua codec yang penting
aptitude install gstreamer0.10-plugins-base gstreamer0.10-plugins-bad gstreamer0.10-plugins-good gstreamer0.10-plugins-ugly gstreamer0.10-ffmpeg gstreamer0.10-fluendo-mp3
Mulai Merekam
Buka VLC, pilih Media > Open Capture Device, pastikan Capture mode : Video for Linux 2, dan kosongkan Card Selection
Pilih Advanced Options, kemudian isikan beberapa parameter di bawah ini :
Device name : /dev/video0
jika pada komputer terhubung device video lain, misalkan : webcam atau MPEG card, bisa jadi TV tuner-nya ada di lokasi /dev/video1 atau /dev/video2 dst. Cara termudah untuk mencari tahu, lihat ke dalam folder /dev kemudian cabut TV Tuner dan perhatikan file mana yang hilang
Standard : PAL
ini standar-nya Indonesia
Audio device name : /dev/audio
Masalah suara ini agak tricky. Seharusnya TV tuner punya “jalur” suara sendiri, misalkan /dev/audio1 atau /dev/audio2. Namun pengalamanku memakai Gadmei, audio-nya baru keluar jika menggunakan kabel audio out Gadmei ke microphone in dari PC (yakni /dev/audio)
Frequency : <kanal>
Nah ini adalah kanal yang ingin kita rekam, dalam satuan Hz. Untuk mengetahui frekuensi dari kanal-kanal, coba lihat file /home/user/.tvtime/stationlist.xml. File ini digenerate otomatis setelah kita menjalankan perintah tvtime-scanner (lihat artikel sebelumnya). Contoh kalau di Bandung : TransTV (638250), TV7 (654250), TVOne (686250)
Caching : 50
Untuk tujuan merekam / memainkannya, angka 50 ms dirasa cukup
Tekan OK, kemudian di sebelah tombol “Play” cari menu “Convert”
Centang pilihan file, dan play locally (jika ingin sambil direkam, sambil ditonton). Kemudian pilih lokasi file ingin disimpan
Selanjutnya pemilihan codec yang digunakan untuk merekam. Sederhananya, hal ini berkaitan dengan kualitas rekaman kita. Namun semakin bagus kualitas rekamannya (gambar dan suara), semakin besar file yang dihasilkan. Untuk pertama kalinya, mari kita coba pilihan profile saja tanpa melakukan tweaking. Pada profile pilih “MPEG-4 / DivX”, lalu klik Save Read more »
Nonton TV dengan Gadmei dan Ubuntu
Iseng-iseng bereksperimen dengan TV Tuner USB Gademi UTV330+ yang aku beli seharga Rp. 250.000,- di BEC, murah kan. Awalnya pegel juga googling nyari cara biar TV Tuner ini jalan di Ubuntu Intrepid-ku. Ternyata memang nggak ada cara selain : Ngompile Driver Kernel Sendiri! Ga perlu kuatir, ngompile itu mengasyikkan koq, apalagi klo berhasil
Okeh, I’ll try to make it easy n’ fun for you.. Read more »
Cara Seru Install Banyak WordPress di Satu Domain
Kalau di artikel sebelumnya kita bisa memiliki banyak blog WordPress dengan subdomain yang berbeda, sekarang akan dijelaskan bagaimana kita melakukan hal serupa namun hanya pada sebuah domain / hostname.
Asumsi kita memiliki sebuah host dengan alamat : www.inoidage.com. Kemudian kita ingin memiliki 3 buah blog WordPress, masing-masing dengan alamat :
- www.inoidage.com/aisar
- www.inoidage.com/labibi
- www.inoidage.com/romas
Langkah pertama tentunya mengekstraksi file-file wordpress ke “Document Root“. Kemudian, seperti biasa, membuat sebuah database khusus untuk wordpress. Setelah itu, bukalah file wp-config.php dan masukkan parameter database yang telah kita buat. Contohnya :
define('DB_NAME', 'blogs');
define('DB_USER', 'blogs-user');
define('DB_PASSWORD', 'blogs-password');
define('DB_HOST', 'localhost');
define('DB_CHARSET', 'utf8');
define('DB_COLLATE', '');
Karena kita ingin menginstall beberapa blog dalam satu database, maka yang harus di-”mainkan” adalah “table_prefix”-nya. Nah, sekarang, problemnya adalah bagaimana menghubungkan antara URL dan “table_prefix” tersebut, sehingga pengaksesan /aisar dan /labibi akan merujuk ke tabel-tabel yang berbeda.
Karena kita akan memanipulasi URL, otomatis kita harus bekerja dengan mod_rewrite pada Apache. Aktifkanlah terlebih dahulu modul tersebut, kemudian buat sebuah file .htaccess pada “Document Root” dengan isi sebagai berikut :
<IfModule mod_rewrite.c>
RewriteEngine On
RewriteBase /
RewriteCond %{REQUEST_FILENAME} !-f
RewriteCond %{REQUEST_FILENAME} !-d
RewriteRule . /index.php [L]
</IfModule>
Contoh tersebut merupakan standar WordPress apabila kita mengaktifkan “permalink”. Jika file-file wordpress tidak berada pada “document root”, cukup mengubah parameter RewriteBase dan RewriteRule. Contohnya, apabila file-file wordpress berada di bawah /blog, maka .htaccess menjadi :
...
RewriteBase /blog/
...
RewriteRule . /blog/index.php [L]
Setelah berhasil memanipulasi URL dengan mod_rewrite, saatnya menghubungkan URL tersebut dengan “tabel_prefix”. Dikaitkan dengan asumsi sebelumnya, aku akan membuat folder baru dengan nama “wp-configs”, kemudian di dalamnya terdapat empat file :
- aisar.php
- labibi.php
- romas.php
- wp.php (default blog)
isi file tersebut kurang lebih hanya saru baris, seperti ini :
<?php $table_prefix = 'aisar_'; ?>
dengan ‘aisar_’ diubah-ubah sesuai “tabel_prefix” yang ingin dipakai (harus unik untuk tiap blog).
Tricks on Hosting Multiple WordPress Sites
(versi indonesia ada di sini) Read more »
Trik Pasang Banyak Blog WordPress di Satu Server
Misalkan kita memiliki sebuah server dengan domain science.com. Server ini ingin ditambahkan beberapa blog WordPress dengan alamat :
- math.science.com
- physics.science.com
- chem.science.com
Langkah-langkah yang harus dikerjakan, antara lain :
- setting subdomain pada DNS
- membuat virtual host
- memasang wordpress di masing-masing virtual host
Asumsi setting subdomain pada DNS telah dilakukan. Langkah selanjutnya, umumnya admin akan meng-copy folder wordpress sebanyak tiga kali, untuk masing-masing blog yang ingin dibuat. Contohnya :
- wordpress-math/
- wordpress-physics/
- wordpress-chem/
Kemudian admin membuat 3 database yang berbeda, dan menyesuaikan konfigurasi database di file wp-config.php pada tiap folder wordpress. Terakhir, setting virtual host dari tiap subdomain akan memiliki document root sesuai dengan folder masing-masing :
- math.science.com -> wordpress-math/
- physics.science.com -> wordpress-physics/
- chem.science.com -> wordpress-chem/
Cara ini memang simpel dan mudah dilakukan, namun memiliki beberapa kekurangan. Contohnya, ketika admin ingin menambahkan theme atau plugin baru ke semua blog, ia harus mengcopy-nya sebanyak 3 kali ke masing-masing folder di atas. Bayangkan jika server kita harus meng-host ratusan bahkan ribuan blog, tentu merupakan pekerjaan yang melelahkan.
Aku punya trik mudah untuk menjawab permasalahan di atas. Aku hanya memakai sebuah folder wordpress sebagai document root untuk semua blog dari virtual host yang ada. Jadi, jika dikaitkan dengan contoh di atas, subdomain math, physics, dan chem memiliki setting document root yang sama, sebut saja : wp-master/. Sehingga, apabila aku menambahkan sebuah theme atau plugin baru di folder wp-master/, semua blog akan dapat langsung menggunakannya.
Read more »
Comments (4)
Comments (21)
Comments (1)