21st Vision

Experience is not what happens to a man; it is what a man does with what happens to him.
-Aldous Huxley-

This is my 7th month in Japan – a restless country, unsociable people, and erotic culture, those are common impression against them. It is used to be a huge question in my head, for what sake I’m coming here; seeking wealth and honour? gaining knowledge yet experience? or just escaping away from my responsibilities.

Well, new life had started. And as expected, it’s never been easy to switch it from one country to another. Missing couple links of language, custom, habit, manner are just everyday stories. Being so lonely in a city of 5,847/km2 people density, Tokyo, is what I had to settle in. Every time I tried to talk in Japanese, they seemed to refuse to understand, I just don’t know why. Then If I pose a genuine idea, they would just turn it down politely without saying clearly : “It’s not common here dude, so It can’t be”.

Day to day, I’ve been convincing myself, what a great chance it would be. Many people go travelling abroad to fulfil their fantasy about a happy life in other corner of the globe, but such a rare chance to struggle a daily-life there. You got to work there, make money, control expense, collaborate with fellows, be part of citizen, meet good and bad people, get accustomed with neighbour, see doctor when you’re sick, get arrested if you break the law, etc. Yeah, so many things will happen, and so many times to take action then experience it, invaluable.

Indonesian people in my age are in hot of talking about different options in life. Some of them prefer working in a big company, providing trusted contract, high salary and bonus, as well as tons of facilities- no matter if the job meet their current qualification or not. Few of them keep their mind to desperately find a job or next-grade school that really fits their skill and interest. While little of them refuse to work under else’s name, and run a self-business to satisfy their freedom.

For me, choosing options is not about who is right or wrong, superior or inferior, strong-hearted or weak-belief. The most important thing is a commonly spoken word : contribution. How well you can contribute to your family, nation, or even world-society, depends on how well you undergo your role. And you don’t have to be as genius as Einstein, or as rich as Gates, to claim your contribution. Just perform your best in everyday’s task, then if everybody does, your country and society will just get better undoubtedly.

Personally, I’m dividing my life into 3 phase, it’s called 20-20-20. I just finished my basic study for 20 years, then for the next 20 years I’d improve my profession, seek wealth, run some business, then after that, in the last 20 years (refer to commonly productive age, until 60′s), I’d spend my life to fight against poverty, corrupted government and law, and other social issues that might be encountered. Of course, only Allah knows could it be 20-20-20 or even less.

My favourite is prophet Muhammad, who is a quick, smart learner since youth, then become a great trader in his 20′s, and finally in 40′s started to dedicate his entire life as a prophet and great leader to the bless of human mankind. My second favourite is Muhammad Yunus, founder of Greemen Bank. He is a professor of economic study, who -since his early 40′s- developed micro-credit into an important instrument in the struggle against poverty. In 2006, Nobel Committee awarded Grameen Bank and its founder, Muhammad Yunus, the Nobel Peace Prize “for their efforts to create economic and social development from below.”

So today I turned 21, still a long way to go, my friend. Would you step together with me, with best effort. Then we shall create best moments, best experiences, and best future, together.

Mengerti

Hari ini aku belajar, tentang salah satu hal tersulit dalam menjalin hubungan : berusaha mengerti, sebelum dimengerti

Laki-laki punya kecenderungan untuk memaksakan kehendak. Laki-laki merasa hebat jika perempuan takluk, tunduk, dan menuruti keinginannya. Laki-laki merasa berwibawa jika semua yang dikatakannya, semua yang diperintahkannya, mendapati prioritas lebih tinggi dari apa yang perempuan utarakan, apa yang  perempuan pertimbangkan.

Laki-laki menganggap ia telah memberikan semua yang terbaik untuk perempuan, dan sebagai balasannya, perempuan harus memberikan yang terbaik untuknya. Perempuan harus mengamini kata-kata dan argumennya, bagaikan firman yang turun dari langit tanpa boleh diperdebatkan. Perempuan harus selalu bisa meluangkan waktu untuknya, karena apa lagi yang lebih penting di muka bumi ini ketimbang bersamanya.

Pemikiran tersebut tanpa disadari mendorong laki-laki sulit, bahkan tidak mau, mengerti perempuan. Boro-boro memahami pemikirannya. Tertarik mendengarkan pendapatnya pun tidak, ketika perempuan menunjukkan tanda-tanda yang berseberangan dengan keinginan laki-laki.

Berusaha mengerti memang sulit, sesulit menerima kekalahan. Kita belum sukses mengerti kemauannya, jika kita masih merasa menang dalam suatu perdebatan atau pertengkaran kecil. Mengerti adalah menginjak-injak keangkuhan diri kita, mengubur hidup-hidup emosi dan egoisme kita, bahkan melepaskan sejenak jubah harga diri kita. Walaupun ternyata mengerti itu semudah mengucapkan : “oke, kali ini memang kamu yang benar”

Mengerti adalah satu-satunya jalan untuk lebih dimengerti. Seperti menabung di bank, semakin banyak yang kita simpan, semakin banyak pula yang dapat kita ambil. Semakin banyak kita berusaha mengerti, semakin banyak pula kita akan lebih dimengerti olehnya.

Kebebasan Diri

Kisah inspiratif Rasulullah, tentang kebebasan menata prilaku diri dalam kehidupan sosial.

muhammadPada tahun kesembilan setelah kenabian Muhammad, yakni setelah kematian istri pertamanya, Khadijah dan pamannya, Abu Thalib, pada tahun 619, Nabi berkeyakinan bahwa ia tidak bisa lagi tinggal di Mekkah. Sama sekali tidak ada harapan keamanan atas kekejaman yang ia derita bersama pengikutnya di Mekkah. Sebelum segalanya menjadi begitu kritis, ia mengambil tindakan yang berani. Ia keluar menuju Taif, sebuah kota di sebelah utara Mekkah. Read more of this post

Jangan Jadi Gelas

gelasSeorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung.

“Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu?”,  sang Guru bertanya.

“Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya, ” jawab sang murid muda.

Sang Guru terkekeh. “Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam.
Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu.”

Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.

“Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu,” kata Sang Guru. “Setelah itu coba kau minum airnya sedikit.”

Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin. Read more of this post

Ubah Rating “Dewasa” Menjadi “Menikah” — Sebuah Solusi Alternatif Film (sejenis) ML

Bagiku, hal yang paling meresahkan atas tayangnya film ML (Mau Lagi) di bioskop adalah efeknya terhadap remaja-remaja “puber” yang menontonnya. Sebuah kenaifan menganggap film beradegan panas yang memompa adrenalin seperti itu sebagai “sex education”, malahan jauh lebih terlihat sebagai “sex campaign”. Apa jadinya bila kampanye seperti ini membekas, mengilhami, bahkan mendarah-daging di kalangan pemuda-pemudi kita? Aku rasa kita semua tau jawabannya. Ada juga pembahasan ilmiah yang bisa dibaca di blog ini.

Coba perhatikan fakta ini :

  • Film Iron Man yang sedang marak diputar di bioskop-bioskop, dilabeli “dewasa” oleh LSF.
  • Film ML (Mau Lagi) yang sebentar lagi menghebohkan bioskop-bioskop, juga mendapat label yang sama : “dewasa”

Namun kenyataannya :

  • Di Film Iron Man, yang aku saksikan langsung di bioskop, tidak ada secuil-pun adegan ciuman, apalagi percumbuan hingga hubungan seks
  • Di Film ML, yang trailernya telah beredar, beuh ciuman di sana-sini, adegan seks berlainan pasangan, dialog-dialog mesum, bahkan ciuman sama anjing??!!

Kalaulah LSF berkelit bahwa pemberian label “dewasa” sudah cukup menyaring calon penonton, mari kita lihat, siapa audiens dari film-film “dewasa” tersebut.

Hampir semua film yang berisi adegan kekerasan alias jotos-jotosan dilabeli “dewasa”. Ya, include Spiderman, Die Hard, Forbidden Kingdom, dst. Pihak bioskop memiliki SOP untuk menyaring calon penonton yang “tidak dewasa”, yakni : penonton yang memakai seragam sekolah, that’s it! Penonton yang tidak memakai seragam sekolah, termasuk anak-anak SMP, SMA, yang lagi malem mingguan sama pacarnya, tentu tidak dapat dilarang untuk membeli tiket dan menonton film “dewasa”.

“17 tahun” belumlah umur yang baik untuk disuguhi adegan yang mungkin baru halal dipraktekkan 5-10 tahun kemudian. Dorongan dan stimulus yang prematur tidak diragukan lagi menjadi penyebab maraknya hubungan di luar pernikahan, bahkan sampai ke tingkat yang paling najis : aborsi.

Aku tergelitik dengan tulisan di spanduk yang aku lihat tadi siang : seandainya Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Pattimura, Cut Nyak Dien tahu, moral bangsa ini akan menjadi sama bejatnya dengan bangsa penjajah, bangsa Barat, tentu mereka lebih memilih untuk tidak usah mengorbankan jiwa, raga mereka, dan ribuan prajurit mereka demi kemerdekaan Indonesia.
Read more of this post

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.