Evaluasi Sholat Kita Yu
Nabi Saw bertanya:”Bagaimana pandanganmu jika pintu rumah salah seorang diantara kamu ada sumur, lalu mandi sehari 5x, bagaimana kotoran di badan orang itu?”, para sahabat menjawab:”Tidak akan tersisa kotoran itu sedikitpun”.
Nabi Saw bersabda:”Demikian juga perumpamaan shalat yang lima waktu, Allah akan menghapus dengannya dosa-dosanya”. (HR. Bukhari)
Sholat itu amal ibadah yang paling spesial lah. Pertama, sholat itu satu-satunya perintah yang Rosul dengar langsung dari Allah, tanpa perantara malaikat Jibril (Inget kan peristiwa Isra’ Mi’raj). Bener-bener face to face, sama Zat yang menciptakan seisi alam raya ini, ngeri banget ga situ.
Kedua, sholat itu amalan yang paling pertama dichecklist di akhirat kelak. So, jangan hepi dolo kalau kita ngerasa udah jadi orang baik, banyak sedekah, suka menabung, tidak sombong, rajin menolong nenek menyebrang jalan, tapi eits sholat-nya masih longbo-longbo, di pemeriksaan pertama aja kita udah ga lolos bro.
Ketiga, sholat itu fleksibel banget, bener-bener mengerti kita lah. Kalau lagi sakit, boleh sambil duduk atau berbaring. Kalau lagi ada keperluan mendesak, bisa dijamak Dhuhur-Ashar atau Magrib-Isya. Kalau lagi bepergian jauh, bisa di-qoshor yang aslinya 4 rakaat jadi 2 rakaat. Kalau ketiduran atau kelupaan shalat, bisa langsung dilaksanakan pas bangun ato pas keingetan. Masih kurang apalagi coba.
So, sangat worthed kalau kita coba mengevaluasi ibadah yang satu ini
1. Sholat 5 Kali Sehari
Hayo.. ada yang masih bolong-bolong shalat-nya? Klo kata orang yang suka itung-itungan, shalat tu ga lebih dari 5 menit. 5 kali 5 = 25 menit, sedang 1 hari ada 24 jam = 1440 menit. Jadi, shalat itu ga menyita lebih dari 1,7% waktu kita dalam sehari! 1,7% yang menentukan kelolosan di pemeriksaan pertama akhirat hehe. Lagian kalo dibandingkan sama waktu kita untuk tidur, untuk main game, untuk ngobrol-ngobrol, shalat tu cuma sebentar banget khan.
2. Shalat di Awal Waktu, Jangan Menunda-Nunda
Ada yang suka sholat Subuh jam 7? Ato ada yang suka jadi deadliners, sholat-nya sering di injury time? Padahal, dengan memprioritaskan sholat segera setelah masuk waktunya, kita akan lebih lega dan tidak terbebani dengan status “belum sholat”. So, kita bisa beraktivitas dengan lebih tenang dan nyaman.
3. Sholat Berjamaah, Bersama Kita Bisa
Pekerjaan yang sama, tapi bayarannya 27 kali lebih tinggi, ngiler gak situ. Sholat berjama’ah punya derajat yang lebih tinggi 27 kali dibanding sholat sendirian. Udah gitu, sebagai ma’mum, kita dapet perlakuan spesial : Kalau pahala shalat Imam-nya sempurna, semua ma’mum juga sempurna pahalanya. Tapi kalau imam melakukan kesalahan, semua ma’mum bebas dari kesalahan itu. So, selalu cari kesempatan untuk berjama’ah.
4. Sholat Di Masjid, Tambah Poin, Tambah Gaul
Dari sholat berjama’ah udah dapet bonus pahala, ayo cari poin-poin pahala lagi dengan sholat di masjid. Satu langkah kaki kanan menuju masjid, mendapatkan satu pahala, sedang langkah kaki kiri menghapus dosa. Sampai di masjid ketemu temen-temen, tambah gaul, dapet pahala silaturahim pula. Belum lagi keutamaan di waktu-waktu tertentu. Shalat Isya berjamaah di masjid, pahalanya setara dengan sholat setengah malam, sedang sholat Subuh berjamaah di masjid, pahalanya setara dengan sholat satu malam penuh! Wow..
5. Mau Khusyuk? Ngertiin Bacaan Sholat Dulu..
Baca fathihah, baca surat pendek, ruku’, i’tidal, sujud, dst, tapi ga ngerti maknanya.. Cem baca mantera aja deh.. Ayo kita buka-buka lagi buku tentang sholat, terutama makna bacaan shalat. Indah sekali ketika kita bisa melantunkan bacaan-bacaan tersebut dalam hati sambil merenungi maknanya. Pada akhirnya, akan semakin terasa komunikasi kita dengan Sang Khalik lewat shalat. Read more »
Jilbab vs Sekularisme, Pelajaran dari Turki
Parlemen Turki akhirnya mencabut larangan pemakaian Jilbab di seluruh Universitas di negeri itu. Peraturan yang telah diterapkan selama lebih dari dua dasawarsa tersebut konon merupakan manifestasi dari paham “sekularisme Turki modern”. Sebuah paham yang telah dianut Turki sejak lebih dari 80 tahun yang lalu republik tersebut didirikan.
Jadi wajar saja, ketika keputusan tersebut diambil, tidak sedikit masyarakat Turki yang berang. Mereka berunjuk rasa dan mendatangi makam Mustafa Kemal Ataturk yang dipuja sebagai bapak sekularisme Turki. Menurut mereka, pembolehan Jilbab akan menyebabkan meluasnya pengaruh agama dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, sehingga berpotensi memunculkan kelompok-kelompok radikal. Kelompok-kelompok inilah yang akan merusak keamanan dan stabilitas negara modern.
Bagi penulis, pergulatan antara agama dan sekularisme memang tidak akan pernah terselesaikan dengan memuaskan kedua belah pihak. Contoh, kaum agamais merasa berhak menjalankan agamanya se-maksimal mungkin, lalu para wanitanya menutup seluruh tubuh mereka dengan jubah hitam dan cadar. Cara berpakaian seperti ini tentunya tidak akan menimbulkan tanda tanya atau gejolak di tengah-tengah masyarakat “Arab” (tidak semua orang Arab). Namun, ketika cara berpakaian seperti ini dibawa ke negara Eropa, Amerika, atau bahkan ke Indonesia sekali pun, sulit sekali untuk diterima sebagai cara berpakaian yang “wajar” dan “sopan”. Akhirnya, muncullah pelarangan-pelarangan yang digagas oleh kaum sekuler. Kalau kaum agamis melihat hal ini sebagai pelanggaran terhadap hak asasi pribadinya untuk menjalankan agama, maka kaum sekuler beralasan untuk menciptakan rasa tentram, aman, dan nyaman bagi masyarakat.
Dua cara pandang ini tentu sulit untuk dipertemukan. Yang terjadi akhirnya adalah pengkutuban paham. Di wilayah yang dikuasai sepenuhnya oleh kaum agamis, diberlakukanlah hukum-hukum agama, seperti kewajiban berjilbab. Sedang wilayah kental kaum sekuler justru sebaliknya, pelarangan berjilbab. Namun bagi penulis, dari kedua model peraturan tersebut tidak ada satu pun yang memenuhi jaminan HAM.
Ketika hukum agama yang sifatnya “debatable”, atau masih diperdebatkan oleh ulama-ulama dipaksakan untuk menjadi peraturan negara, tentu memicu munculnya konflik kepentingan dan ada pihak yang merasa terdzolimi. Untuk itu bagi saya, sangat tidak feasible kalau pemerintah daerah di Indonesia membuat perda syari’at kewajiban berjilbab. Namun, penulis mendukung penuh apabila perda syari’at itu untuk memberantas prostitusi, perjudian, miras, penyalahgunaan narkoba serta hal-hal lain yang memang tidak “debatable”.
Begitu juga dengan kaum sekuler, ketakutan yang berlebihan terhadap agama pada akhirnya akan menciptakan produk hukum yang mengekang kebebasan beragama. Bagi saya, sekulerisme itu seharusnya “netral agama” bukan “anti agama”. Misalkan, tidak seharusnya muncul “kebencian” terhadap jilbab, pengekangan terhadap azan, dst. Namun yang lebih harus ditekankan ialah bagaimana menciptakan lingkungan yang kondusif, rukun dan toleran di antara pemeluk-pemeluk agama yang berbeda.
Pada akhirnya, memang antara dua kutub ini dibutuhkan sikap saling toleran, saling menghargai. Jika anda kaum agamis, hidup di negeri sekuler (seperti Indonesia) yang menjamin kebebasan anda beragama, silakan nikmati dan syukuri itu sebaik-baiknya, tapi jangan berlebihan, jangan sampai menimbulkan konflik atau ketidaknyamanan bagi orang lain.
Bagaimana Sikap Kita Seharusnya Pada Ahmadiyah
Sejak keluarnya fatwa MUI tentang sesatnya ajaran Ahmadiyah, kekerasan terhadap pengikut jama’ah ini semakin menjadi-jadi. Perusakan dan penyegelan rumah ibadah jama’ah ini menjamur dimana-mana, bahkan pengusiran dan pembakaran rumah juga dialami warga Ahmadiyah, khususnya yang tinggal di daerah Lombok, NTB.
Kondisi ini sangat memprihatinkan bagi bangsa Indonesia, khususnya umat muslim di Indonesia. Perilaku kasar, beringas, dan watak premanisme yang ditunjukkan, sangat jauh dari jati diri seorang muslim sebagai rahmat bagi seisi alam raya. Terlebih, Ahmadiyah punya hubungan yang sangat dekat dengan Islam, jika tidak bisa dikatakan bahwa Ahmadiyah = Islam. Aku jadi teringat pada saat Rasul menaklukkan kaum kafir Quraisy (yang jelas permusuhannya) di kota Mekkah, seluruh pasukan bahkan tidak diperbolehkan merusak sebatang pohon pun, apalagi menghancurkan bangunan.
Ahmadiyah bukanlah ajaran sesat. Karena agama yang sesat adalah agama yang mengajarkan kebencian, permusuhan, melupakan kasih sayang, mendorong penganutnya untuk berbuat kejahatan dan kerusakan di muka bumi. Dan tentunya, tidak ada satu pun agama yang kita anut memiliki ciri-ciri di atas. Sebaliknya, agama lah penuntun bagi akhlak dan tingkah laku manusia, penebar kasih sayang dan perdamaian di muka bumi.
Selama ini, ajaran Ahmadiyah divonis sebagai penyimpangan dari Islam karena ditengarai memiliki nabi “penerus” setelah Muhammad, serta kitab suci selain Al-Qur’an. Nabi yang dimaksud adalah Mirza Gulam Ahmad, pendiri Jama’ah Ahmadiyah. Namun, berkali-kali pentolan Jama’ah Ahmadiyah menyuarakan klarifikasinya atas hal tersebut. Mereka menyatakan bahwa Ahmadiyah sepenuhnya mengimani Allah dan Rasul terakhir, sebagaimana ummat Muslim lainnya. Terakhir, mereka mengeluarkan 12 butir pernyataan resmi untuk memperjelas kesimpang-siuran pengetahuan masyarakat terhadap ajaran ini. (lihat di sini)
Pun seandainya ada ajaran Ahmadiyah yang tidak cocok atau sefaham dengan kita, marilah sikapi dengan dewasa. Perbedaan pandangan bukanlah sesuatu yang tabu dalam Islam, dan bukan sesuatu yang harus dilenyapkan dengan menempelkan label “sesat” disana-sini. Bukankah Allah memberikan 2 pahala untuk hasil ijtihad yang tepat, dan 1 pahala untuk hasil ijtihad yang tidak tepat?
Pembagian Kondom = Pencegahan AIDS atau Penghalalan Seks Bebas?
Setiap tahunnya, tanggal 1 Desember diperingati sebagai hari HIV/AIDS se-dunia. Di Indonesia, momen ini ternyata punya sensitivitas tersendiri bagi sebagian kaum muslim. Apalagi, setiap tahun, kampanye pencegahan HIV/AIDS biasanya dibarengi dengan pembagian kondom gratis. Hal ini kemudian diartikan sebagai penghalalan atas prilaku free sex, atau hubungan seks di luar pernikahan.
Menurut para pengusung penolakan kondom tersebut, solusi pencegahan penyakit AIDS bukanlah dengan pemakaian kondom, namun lebih kepada membenahi mental masyarakat untuk tidak melakukan free sex. Sebagaimana dikutip dari situs eramuslim :
“Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus, juga menolak cara-cara pelegalan seks bebas yang dibalut dengan kampanye anti AIDS. Sebab, secara sosial upaya kondomisasi itu akan menimbulkan praktek perzinahan dan prostitusi secara massif.
Oleh karena itu, FSLDK saat ini secara konsisten mengadakan pemberantasan penyebaran AIDS dengan proses penyadaran moralitas di kalangan mahasiswa dan remaja, melalui program pembinaan akhlak berupa mentoring keIslaman di lebih dari 100 kampus di Indonesia.”
Pada kenyataannya, angka penyebaran penyakit AIDS di Indonesia sudah sedemikian parahnya. Data statistik Departemen Kesehatan menunjukkan, angka kasus AIDS pertahun sejak tahun 2001 hingga 2006 telah meningkat lebih dari 10 kali lipatnya. Bahkan pada tahun 2006, ditemukan tidak kurang dari 2800 kasus, yang artinya : di Indonesia tiap 3 jam penderita AIDS bertambah 1 orang. Read more »
Sebuah Pencarian : Wajibkah Berjilbab
Kaget! Saat itu mata saya tengah melihat ke sekeliling ruang tamu kediaman seorang tokoh umat Islam di Indonesia, Bapak Amien Rais. Bersama rekan-rekan dari Gamais, kami bermaksud untuk mengundang beliau sebagai pembicara di salah satu acara di kampus ITB. Mata saya mendapati sebuah foto keluarga terpampang di dinding : Pak Amien, Istri, serta anak-anaknya dalam balutan busana adat Jawa. Satu hal yang membuat saya kaget : tidak ada satu pun anggota keluarga beliau, baik istri maupun anak-anaknya yang berjilbab. Entah mengapa, logika saya tidak bisa menerima hal tersebut. Seorang pejuang reformasi -pembela jutaan rakyat yang tertindas-, aktivis dan ulama Islam -hingga pernah menjabat sebagai ketua PP Muhammadiyah-, saya terus bertanya dalam hati : Mengapa abai terhadap hal-hal “kecil” seperti itu?
Pertemuan dengan Pak Amien yang berlangsung singkat kala itu belum bisa memecahkan teka-teki yang muncul di benak saya. “Rasanya tidak mungkin kalau Pak Amien sampai mengabaikan perhatian terhadap keluarganya. Quu anfusakum wa ahlikum naara -peliharalah dirimu dan keluargamu dari neraka-, pasti beliau lebih paham betul makna ayat ini dibanding saya”. Saya coba bertanya ke salah satu alumni Gamais senior yang ikut mendampingi kami dalam kunjungan tersebut. “Oh, masalah itu. Memang fiqih yang diyakini Pak Amien seperti itu”, jawabnya. “Fiqih yang diyakini? Maksudnya?”, saya kembali bertanya. “Yaa, Pak Amien memandang jilbab bukan suatu kewajiban seperti shalat atau jihad misalnya”. Kali ini saya tambah bingung? Untuk pertama kalinya sejak saya mengaji di TPA umur 4 tahun, saya mendengar ada fiqih yang memandang jilbab bukan suatu kewajiban bagi muslimah.
Rasa ingin tahu saya mengenai “fiqih Pak Amien” membuat saya mencoba mencari berbagai sumber informasi tentang jilbab. Perpustakaan Salman kerap saya jabangi untuk mencari buku dengan keyword “jilbab”, “kerudung”, “fiqih wanita”, dan sejenisnya. Dengan keyword yang sama pula saya coba googling, dan menemukan artikel “menarik” berjudul “Kritik Atas Jilbab” yang ternyata ditulis oleh seorang aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL). (artikel tsb bisa dibaca disini). Artikel tersebut merujuk ke sebuah buku yang ditulis oleh Muhammad Sa’id Al Asymawi yang menerangkan sejarah diwajibkannya pemakaian jilbab, hingga dalil-dalil yang dirujuk oleh para ulama. Poin utamanya adalah : hadist-hadist yang menjadi rujukan tentang pewajiban jilbab adalah hadist ahad (satu periwayatan) yang tak bisa dijadikan landasan hukum tetap. Saya bertanya dalam hati : “Bukannya di Al-Qur’an jelas diungkapkan tentang kewajiban berjilbab/berkerudung (An-Nur(24) : 31 dan Al-Ahzab(33) : 59)”. Menurut sang penulis, bila diteliti lagi di dalam tafsir Ibnu Katsir misalnya, perintah Allah untuk mengulurkan kerudung hingga menutup dada (An-Nur(24):31) dikarenakan perempuan pada zaman jahiliyah biasa melewati laki-laki dengan keadaan telanjang dada tanpa ada selimut sedikitpun. Bahkan kadang-kadang mereka memperlihatkan lehernya untuk memperlihatkan semua perhiasannya. Ditambahkan oleh Imam Zarkasyi : Mereka mengenakan pakaian yang membuka leher bagian dadanya, sehingga tampak jelas selu-ruh leher dan urat-uratnya serta anggota sekitarnya. Mereka juga menjulurkan keru-dungnya mereka ke arah belakang, sehingga bagian muka tetap terbuka. Oleh karena itu, maka segera diperintahkan untuk mengulur-kan kerudung di bagian depan agar bisa menutup dada mereka. Sedangkan ayat Al-Ahzab(33):59 yang berisi perintah Allah untuk mengulurkan jilbab ke seluruh tubuh, turun ketika gangguan terhadap muslimah sangat gencar terutama dari kaum Yahudi dengan alasan tidak dapat membedakan perempuan muslim dan budak, seperti ditunjukkan dalam penggalan dari ayat itu : “..yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.” Read more »
Jabat Tangan Lawan Jenis, Bole Ga Si?
[ada sepenggal cerita]
Dan..yang paling gawat, Mas Gagah emoh salaman sama perempuan! Kupikir apa
sih maunya Mas Gagah?”
“Sok kece banget sih Mas? Masak nggak mau jabatan tangan sama Tresye? Dia
tuh cewek paling beken di sanggar Gita tahu?” tegurku suatu hari. “Jangan
gitu dong. Sama aja nggak menghargai orang!”
“Justru karena Mas menghargai dia, makanya Mas begitu,” dalihnya, lagi-lagi
dengan nada yang amat sabar. “Gita lihat kan gaya orang Sunda salaman?
Santun tetapi nggak sentuhan. Itu yang lebih benar!”
Huh, nggak mau salaman. Ngomong nunduk melulu?, sekarang bawa-bawa orang
Sunda. Apa hubungannya?”
Mas Gagah membuka sebuah buku dan menyorongkannya kepadaku.”Baca!”
Kubaca keras-keras. “Dari Aisyah ra. Demi Allah, demi Allah, demi Allah,
Rasulullah Saw tidak pernah berjabatan tangan dengan wanita kecuali dengan
mahromnya. Hadits Bukhori Muslim.”
[cerita selesasi]
Penjelasan :
Hadist yang dimaksud :
“Aisyah berkata, “Maka barangsiapa diantara wanita-wanita beriman itu yang menerima syarat tersebut (syarat untuk dibai’at), Rasulullah saw. berkata kepadanya, “Aku telah membai’atmu - dengan perkataan saja - dan demi Allah tangan beliau sama sekali tidak menyentuh tangan wanita dalam bai’at itu; beliau tidak membai’at mereka melainkan dengan mengucapkan, ‘Aku telah membai’atmu tentang hal itu.’” HR Bukhari
Dari hadist ini beberapa ulama mengambil kesimpulan : “Sewaktu Bai’at -yang merupakan prosesi penting- Nabi tidak menyalami wanita, jadi berjabat tangan antara lawan jenis hukumnya haram”
Perlu diketahui ada hadist lain tentang proses bai’at ini yang diriwayatkan oleh Ummu Athiyah :
“Lalu Rasulullah saw. mengulurkan tangannya dari luar rumah dan kami mengulurkan tangan kami dari dalam rumah, kemudian beliau berucap, ‘Ya Allah, saksikanlah.’” HR. Bukhari
Nah, proses Bai’at sendiri dilakukan berulang-ulang oleh Nabi sehingga memungkinkan terdapat periwayatan yang berbeda seperti terlihat pada dua hadist di atas. Seandainya kita mengambil hadist Aisyah sebagai dalil pengharaman berjabat tangan, ini juga tidak terlalu tepat mengingat :
a. Kaidah bahwa sesuatu yang tidak dilakukan oleh Rasul, tidak lantas berarti haram. Bisa mubah, atau makruh, bisa jadi memang karena Rasul tidak prefer melakukannya, kecuali memang ada kata-kata yang tegas dari Rasul untuk mengharamkannya. Contoh : Rasul tidak memakan daging biawak, tetapi para ulama sepakat hukumnya mubah.
b. Konteks hadist tersebut, Aisyah sedang membicarakan Bai’at wanita mukminah yang berhijrah setelah perjanjian Hudaibiyah, bukan Bai’at secara umum, terlebih berjabat tangan secara umum. Oleh karena itu Imam Bukhari memasukkan hadist ini ke bab “Idzaa Jaa aka al-Mu’minaat Muhaajiraat” Read more »
Allah Ada Di Dekat Kita
Pernahkah kita bertanya, bagaimana kita dapat percaya bahwa Allah itu ada? Padahal mata kita tidak pernah melihat wujud-Nya, telinga kita tidak pernah mendengar perkataan-Nya, begitu juga hidung, tangan, bahkan seluruh indera-indera kita tidak pernah merasakan eksistensi-Nya. Namun dengan segala keterbatasan yang ada pada indera kita, ternyata kita masih bisa menghayati, apa yang kita percaya sebagai ciptaan-Nya, tanda-tanda kekuasaan-Nya.
Jauh sebelum manusia lahir, sesuatu yang luar biasa telah terjadi : pembentukan alam semesta. Teori pembentukan alam semesta yang saat ini banyak dianut oleh para ilmuwan ialah apa yang disebut dengan Big Bang. Berdasarkan teori ini, sebelum planet, bintang, satelit, dan benda-benda angkasa lainnya terbentuk, seluruh alam semesta ini berwujud seperti bola dengan diameter 3 juta mil, yang tersusun dari atom-atom dengan gaya tarik menarik sangat kuat, bahkan tidak dapat dibayangkan oleh akal. Pada suatu saat, ledakan yang sangat besar terjadi pada bola tersebut, menyebabkan atom-atomnya terpental ke segala arah. Atom-atom ini lah yang lambat laun membentuk planet, bintang, hingga tata surya, dan galaksi.
Alam raya ini dipercaya oleh para ilmuwan terus meluas. Bintang-bintang senantiasa bergerak menjauh, begitu juga dengan matahari pada sistem tata surya kita. Saat ini luas alam raya diperkirakan mencapai milyaran tahun cahaya. Padahal, satu tahun cahaya saja setara dengan 10 triliun km. Sungguh amat luas dan sulit dikalkulasikan kecuali menggunakan simbol matematika tak hingga.
Keajaiban alam raya ini juga diungkapkan oleh Stephen Hawking dalam bukunya A Brief History of Time. Menurut perkiraannya, apabila laju pengembangan alam semesta ini sejak terjadinya Big Bang terlambat satu per 10 pangkat 18 detik saja dari keadaannya sekarang, maka bintang-bintang, planet-planet, termasuk bumi tidak akan pernah terbentuk, seperti yang kita dapat saksikan sekarang. Seorang ahli matematika dari Inggris juga sempat mengemukakan bahwa probabilitas / peluang alam raya tercipta sampai keadaannya sekarang adalah 1 banding 10 pangkat 123, yakni satu per 10 dengan 123 buah nol di belakangnya, sebuah ketelitian yang mustahil untuk dibayangkan manusia.
Kita tidak perlu mencari tahu lagi, siapakah gerangan yang berperan dalam penciptaan alam semesta ini. Allah telah menunjukkan semua itu dalam untaian ayat-ayat-Nya. Pada Al-Anbiya [21]:30 Allah berfirman :
“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya..”
Begitu juga dalam Adz-Dzaariyat [51]:47 :
“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar Maha Meluaskan”
Serta pada Az-Zumar [39]:5 :
“Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan”
Tidak dapat dibayangkan bagaimana Al-Qur’an yang diturunkan pada abad ke-7 Mahesi telah menyiratkan fenomena pembentukan alam raya sebagaimana ilmuwan-ilmuwan zaman sekarang baru dapat mempelajarinya. Hal itu tidak lain untuk menegaskan eksistensi Allah sebagai Sang Pencipta dari alam raya ini beserta seluruh isinya. Read more »
Tentang blog ini..
La Vida, berarti kehidupan
La Lucha, berarti perjuangan
Blog ini adalah penerus dari website pribadi milik Aisar Labibi Romas yang beralamat di http://students.itb.ac.id/~aisar
liat profil lengkap, ato komentarin blog ini?
[klik disini]
-
Archives
- June 2008 (2)
- May 2008 (6)
- April 2008 (5)
- March 2008 (3)
- February 2008 (4)
- January 2008 (4)
- December 2007 (4)
- November 2007 (3)
- October 2007 (16)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS
