Aisar - La Vida, La Lucha

dedikasi dari Aisar Labibi Romas

Film “Mengaku Rasul” Oke Punya, Tapi..

Guru Samir tengah berdiri di atas mimbar mushalla, berceramah dengan penuh membara di hadapan santri-santrinya. “Kalianlah manusia yang terpilih oleh Allah, untuk menjadi ummatku. Sebagaimana ummat rasul-rasul terdahulu, kalian semua akan masuk surga bersamaku. Alhamdulillah! Sambutlah jalan yang terbuka lebar menuju pintu surga Allah!”

Sementara itu, di luar mushalla warga kampung sekitar datang berbondong-bondong, menggenggam obor dan bahan bakar. Dengan wajah penuh amarah -atas segala kesesatan ajaran Guru Samir- warga membakar mushalla beserta seisinya. Santri-santri histeris, berlarian keluar dengan badan terbakar api. Sedangkan Guru Samir tidak bergerak sedikitpun dari posisinya semula, tetap tegap berdiri saat jilatan api menggeregoti tubuhnya.

Berita kematian Guru Samir beserta pengikutnya menjadi bahan obrolan panas di kalangan warga desa. Namun tak disangka, terjadilah kemukjizatan. Guru Samir tiba-tiba hadir kembali di tengah-tengah warga desa, dan mengklaim dirinya telah dibangkitkan kembali oleh Allah dari kematian. Benarkah Guru Samir adalah seorang rasul yang diberi kemukjizatan oleh Allah?

Film ini terbilang unik, cukup orisinil dari segi ide cerita, serta cerdik memanfaatkan isu aliran sesat yang sedang santer di negara kita. Jalan ceritanya penuh teka-teki dan tanda tanya, sehingga cukup merangsang kita untuk menebak-nebak kelanjutan cerita, serta jawaban terhadap misteri yang muncul. Contohnya adalah kesaktian / mukjizat Guru Samir yang dapat berada di dua tempat sekaligus, atau tangan yang pulih kembali setelah ditebas pedang.

Sayang, tidak semua teka-teki yang muncul mendapat jawaban yang memuaskan, bahkan beberapa terkesan dipaksakan.

Satu poin lagi yang aku garisbawahi. Aku pikir adegan penyerangan, pembakaran musholla dan seisinya, yang di film tersebut dianggap sebagai “peristiwa heroik”, tidaklah tepat. Bagaimana pun juga, pengikut-pengikut Guru Samir bukanlah setan-setan yang harus dimusnahkan, melainkan korban dari doktrin-doktrin sesat yang Guru Samir ajarkan. Apalagi, peristiwa itu juga dipicu oleh pencabulan yang dilakukan Guru Samir terhadap salah seorang anak gadis warga, tentu hal tersebut murni kesalahan individu, bukan kelompok.

Seharusnya sutradara bisa “memberi contoh” yang lebih arif, dalam menyikapi “aliran sesat” di tengah-tengah ummat Islam. Pun jika sutradara memandang adegan itu bukanlah untuk “memberi contoh” melainkan “menggambarkan realita yang ada”, apa bedanya dengan film ML yang sukses “memvisualisasikan” realita di kalangan remaja?

Sekian saja, sekali lagi, apresiasi aku sampaikan untuk film ini. Menghibur, mendidik, mentrigger rasa waspada terhadap aliran sesat, walaupun masih ada yang harus diperbaiki lagi. Semoga perfilman Indonesia terus jaya!

June 8, 2008 Posted by aisar | Personal Stuff, Serba-serbi | , , | 6 Comments

Inikah Akhir Petualangan FPI?

1 Juni 2008, perhatian masyarakat Indonesia serentak mengarah ke Insiden Monas. Puluhan aktivis yang sedang memperingati hari lahirnya Pancasila, didatangi oleh kawanan berjubah putih yang menyebut dirinya “Pembela Islam”. Syahdan, takbir berkumandang dimana-dimana, saat massa FPI menunjukkan semangat perang Badar-nya, dengan memukuli para aktivis yang melakukan aksi damai tersebut. Tragisnya, aksi brutal bak preman kampung itu juga memakan korban ibu-ibu, perempuan, bahkan beberapa ulama pimpinan pondok pesantren yang turut serta pada hari itu, hingga menderita luka yang serius di kepala dan sekujur tubuhnya. Ambulance yang mencoba menolong korban malah ikut menjadi bulan-bulanan massa FPI. Naudzu billah..

Bukan kali pertamanya, FPI berulah kasar. Pembaca bisa melihat “daftar prestasi” FPI sejak tahun 1998 di link ini.

Mengherankan memang, selama ini kepolisian tidak pernah bertindak tegas terhadap FPI. Seperti pada Insiden Monas kemarin, polisi terkesan membiarkan dan tidak langsung menangkapi para perusuh. Sangat berbeda dengan misalnya, tindakan polisi terhadap aksi-aksi mahasiswa yang berbau anarkis.

Bisik-bisik tentang “dekat”-nya FPI dengan petinggi-petinggi TNI sudah terdengar lama. Salah satu indikasinya adalah ketika ratusan milisi FPI yang selalu berpakaian putih-putih itu menyatroni Kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), memprotes pemeriksaan Jendral Wiranto dan kawan-kawan oleh KPP HAM. Milisi FPI yang datang ke kantor Komnas HAM dengan membawa pedang dan golok itu bahkan menuntut lembaga itu dibubarkan karena dianggap lancang memeriksa para jendral itu. Bahkan sebuah sumber lain mengatakan, FPI memang sengaja dibentuk oleh TNI, guna meneror tempat-tempat maksiat ilegal yang tidak “nyetor” ke tentara.

Apa pun itu, tindakan FPI memang sudah semakin meresahkan, dan sudah sepatutnya pemerintah berani bertindak tegas dengan membubarkan kawanan preman jubah putih ini. Bukan hanya merusak nama Islam yang selama ini diusungnya, bukan hanya menodai kesucian takbir “Allahu Akbar” yang selama ini didengungkan dalam tiap aksi brutalnya, tapi FPI juga sudah berani mensejajarkan manusia dengan anjing yang dapat dipukuli, dilempari dan ditendang-tendang sembarangan.

Saat tulisan ini diturunkan, polisi tengah menangkapi anggota-anggota FPI di markas besarnya. Polisi juga menggiring Habib Riziq, ustadz jadi-jadian yang selama ini menjadi provokator aksi FPI. Selain itu, beberapa cabang FPI di daerah Jawa telah menyatakan membubarkan diri, setelah mendapat tekanan hebat dari warga sekitarnya.

Semoga, Inilah Akhir Petualangan FPI! Amien! Allahu Akbar!

June 4, 2008 Posted by aisar | Rodo-rodo Seriues | , | 9 Comments